inspirasi

Sejenak Mengenal Basilius Wena; Anak Petani Sang Nahkoda Bawaslu Ende

FD
Kamis, 7 Maret 2024 | 15:27 WIB
Basilius Wena, SH/ Ketua Bawaslu Ende (Foto: Dokumen Pribadi)

BASILIUS WENA, sekilas nama ini cukup dikenal di kalangan masyarakat kabupaten ende dan provinsi nusa tenggara timur (NTT) pada umumnya

Sosok paru baya ini, sering tampil menjadi pembicara dalam forum seminar maupun diskusi yang berhubungan dengan penyelenggaraan pemilu, dan dalam pelaksanaan pleno pemilu hingga pada sengketa pemilu

Pria kelahiran 3 Februari 1982 ini, merupakan anak petani dari Desa Kamubheka, Kecamatan Maukaro, Ende NTT yang mendedikasikan hidupnya pada badan pengawas pemilu (Bawaslu) sejak tahun 2012 dengan menjadi staf hukum pada sekretariat panwaslu ende dan kini sebagai ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Ende periode (2023-2028)

Proses panjang kemudian mengantarnya menjadi ketua Bawaslu Kabupaten Ende, yang bertanggung jawab penuh atas pengawasan terhadap pelaksanaan pemilu sebagai tugas dan panggilan mulia yang harus dilalui suami dari Maria Delfina Gue Wea tersebut dengan melewati pendidikan di tiap jenjang

Langkah pendidikan Ayah dari Metodius Joa Ja dan Dominikus Junior Jago Meja ini dimulai dengan pendidikan dasar dari belajar bersama di TK St. Yoseph Kamubheka (1989) dan menempuh bangku sekolah dasar di SDK Kamubheka (1996)

Karakter lingkungan pendidikan dan tempat tinggal Kamubheka yang berada persis di daerah perbatasan antara Kabupaten Ende dan Nagekeo, kental dengan perpaduan dua budaya menumbuhkan pemahamannya terhadap keberagaman dan sikap saling menghargai perbedaan

Pemahaman mengenai keberagaman budaya terus bertambah ketika dia meneruskan pendidikan sekolah menengah di SMP St. Antonius Ndona dan tinggal di perkampungan Ndona, Kecamatan Ndona dengan karakter masyarakat dengan budaya Ende Lio dan terkenal akan sikap toleransinya (1999)

Di masa itu, Basilius yang merupakan anak ke 5 dari7 bersaudara dalam keluarga petani sederhana yang menetap di Kamubheka, terpaksa meninggalkan orang tua dan saudaranya demi melanjutkan pendidikan di tingkat menengah

"Saya SMP di Ndona. Dan banyak teman saya dari Ndona, dari daerah Lio. Orang tua saya tinggal di kampung. Makanya saya tau dan mengerti bahasa Lio. Ndona itu seperti saya punya kampung sendiri, saya merasa saya dibesarkan di sana" Kenangnya saat dijumpai media ini beberapa waktu lalu

Setelah menamatkan pendidikan di bangku SMP pada tahun 1999, niatnya untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SLTA terpaksa ditunda, lantaran keterbatasan biaya sekolah sebagai anak petani sederhana. Situasi ini menjadikan Basten semakin kokoh untuk berjuang dengan menjadi petani dan nelayan selama 4 tahun tanpa menikmati bangku pendidikan sembari memendam hasrat mencapai pendidikan hingga tingkatan sarjana

Keinginan yang kuat menjadi modal dasar dia untuk melanjutkan pendidikan dengan mengambil resiko meniggalkan orangtua, lalu merantau ke Kupang dan menjadi siswa SMAN 5 Kupang, yang kemudian pindah
ke SMAN 1 Kalabahi, Alor NTT dan tamat pada tahun 2004

Potret Bastian Wena Bersama Istri dan Dua Buah Hati Mereka (Sumber : Dokumen Pribadi)

Keterbatasan ekonomi sebagai anak petani, pengalaman sebagai perantau muda yang mulai memahami perbedaan suku, agama dan budaya menguatkan niatnya untuk mencintai Indonesia dalam semangat nasionalisme yang ditunjukkan dengan bergabung menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) saat menjadi mahasiswa fakultas hukum pada universitas nusa cendana (UNDANA) Kupang

Di jenjang perguruan tinggi, pria yang akrab disapa Basten ini, terlibat aktif dalam organisasi internal maupun external kampus. Selain menjadi anggota aktif, dirinya pernah menjabat sebagai ketua bidang organisasi komisariat hukum GMNI Cabang Kupang, ketua bidang organisasi KMK Fakultas Hukum Undana dan Sekretaris BLM Fakultas Hukum Undana

Halaman:

Tags

Terkini