Hadirkan Dedikasi Penuh Untuk Masyarakat Manggarai Timur, Yayasan Sahabat Pedalaman Bangun Jembatan di Wae Mapar

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Senin, 10 November 2025 | 20:12 WIB
Jembatan yang dibangun Yayasan Sahabat Pedalaman di Wirung-Elar Selatan (Foto: Dok. Yayasan Sahabat Pedalaman)
Jembatan yang dibangun Yayasan Sahabat Pedalaman di Wirung-Elar Selatan (Foto: Dok. Yayasan Sahabat Pedalaman)

Idenusantara.com-Kisah pilu warga di pedalaman Mangggarai Timur kerap kali menjadi bahan perbincangan publik setiap tahunnya. Cerita keterbatasan dan keterbelakangan akan terus menjadi kisah kelam para pemegang tertinggi kedaulatan negara yang bernama rakyat.Salah satu kisah pilu itu muncul dari perbatasan kabupaten Manggarai Timur dan kabupaten Ngada tepatnya di sungai Wae Mapar.

Adapun setiap kali hujan turun, sungai itu berubah menjadi penghalang ganas serta memutus akses antara Kampung Wirung di Desa Nanga Meje, Kecamatan Elar Selatan, kabupaten Manggarai Timur-NTT dengan Kampung Musumanang di seberangnya yang masuk wilayah Kabupaten Ngada.Akibat dari kondisi ini Anak-anak terpaksa bolos sekolah, ibu-ibu kesulitan membawa hasil bumi, dan akses kesehatan pun terancam.

Baca Juga: Gelar Upacara Hari Pahlawan Tahun 2025 Kapolda NTT Serahkan Piagam Penghargaan Kepada Dua Personel Berprestasi di Polres Manggarai

Di tengah kesulitan inilah, hadirnya sosok Abdul Rajak yang datang bagaikan hujan di musim kemerau panjang. Ia hadir membawa berkat dan menghadirkan harapan warga pedalaman.Abdul Rajak merupakan seorang Volunteer dari Yayasan Sahabat Pedalaman.

Jembatan di Wirung-Elar Selatan
Jembatan di Wirung-Elar Selatan

Abdul Rajak merupakan sosok yang berani dan orang yang tak gentar menghadapi tantangan. Ia telah lama mendengar dan menyaksikan langsung perjuangan warga di kampung Wirung Elar Selatan. Tekadnya membara, ia berniat Jembatan harus berdiri ditempat itu untuk memberikan harapan baru bagi warga setempat.

Setelah melakukan survei mendalam dan berkoordinasi dengan Yayasan, Rajak memimpin inisiasi pembangunan jembatan gantung. Ini bukan proyek kecil. Jembatan yang direncanakan memiliki panjang 75 meter, membentang gagah di atas derasnya Wae Mapar, menghubungkan dua kabupaten yang terpisahkan oleh air.

Baca Juga: Buka ETMC XXXIV di Ende, Gubernur NTT : Sepak Bola Satukan Kita dan Gerakkan Ekonomi Daerah

Adapun yang membuat proyek ini luar biasa adalah sumber dayanya. Seluruh biaya pembangunan dari awal hingga akhir ditanggung sepenuhnya oleh Yayasan Sahabat Pedalaman dan merupakan program proritas. Ini adalah bukti nyata komitmen yayasan terhadap pemerataan akses dan kesejahteraan masyarakat di daerah terpencil.

Namun dana saja tidak cukup. Pembangunan fisik memerlukan tenaga, semangat, dan gotong royong. Di sinilah Rajak menunjukkan kepiawaiannya dalam merangkul masyarakat.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, ini bukan hanya jembatan Sahabat Pedalaman. Ini jembatan kita semua. Jembatan masa depan anak-anak kita," ucapnya dalam sebuah pertemuan awal.

Baca Juga: Profil dan Peran 7 Tokoh Pertempuran Surabaya 10 November

Panggilan serta ajakan itu disambut antusias. Warga Kampung Wirung dan warga Kampung Musumanang yang selama ini hanya bisa saling pandang dari kejauhan, kini bersatu padu. Rajak bekerja bahu-membahu dengan mereka. Ia tidak hanya mengawasi, tetapi juga ikut mengangkat batu, mencampur semen, dan memasang rangka. Ia adalah relawan, sekaligus sahabat sejati di mata warga.

Setiap hari, bunyi palu dan teriakan semangat memenuhi lembah Wae Mapar. Warga Wirung membawa kayu, warga Musumanang membantu menarik kawat baja. Batas wilayah seolah lenyap, digantikan oleh semangat persaudaraan dan tujuan yang sama. Wajah-wajah lelah dipenuhi senyum dan harapan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

X