Hidup Serba Kekurangan dan Mengasuh Tiga Cucu Sendirian, Monika Naut Butuh Uluran Tangan

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Minggu, 4 Januari 2026 | 06:40 WIB
Monika Naut, lansia tangguh yang mengasuh tiga cucunya
Monika Naut, lansia tangguh yang mengasuh tiga cucunya

Idenusantara.com-Seorang janda lanjut usia, Monika Naut (77) warga Desa Compang Namut, RT/RW 012/007, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menjalani hari-harinya dalam keterbatasan fisik dan kesunyian. Sejak lebih dari tiga dekade lalu, Monika mengalami kelumpuhan pada kedua tangannya, membuatnya tak lagi mampu bekerja seperti warga lainnya.

Namun, di tengah kondisi fisik yang serba terbatas, Monika tetap tegar menjalani peran berat sebagai pengasuh tunggal bagi tiga orang cucunya yang masih duduk di bangku sekolah. Tanpa penghasilan tetap dan bantuan rutin, ia tetap berjuang setiap hari untuk mencukupi kebutuhan makan dan pendidikan cucu-cucunya. Keterbatasan fisik tidak pernah memadamkan semangatnya untuk menjadi tumpuan keluarga kecilnya.

“Walau saya tidak bisa bekerja, saya tetap ingin cucu-cucu saya sekolah dan punya masa depan,” tuturnya pelan dengan suara terbata-bata.

Baca Juga: Berbagi Kasih Natal, Maria Ratna Hadirkan Sukacita Bagi Pegiat UMKM dan Keluarga Miskin di Manggarai Timur

Sudah 38 tahun, meskipun ia hidup dengan kondisi kedua tangannya yang cacat, namun semangatnya untuk menghidupi keluarga tak pernah padam. Setiap hari, Monika berjibaku mencukupi kebutuhan makan dan pendidikan cucu-cucunya, meski tanpa penghasilan tetap.

“Saya hanya bisa berdoa dan berusaha semampu saya. Mereka sekolah, saya harus tetap kuat,” ujarnya dengan suara lirih.

Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi satu-satunya harapan yang masih setia datang. Sementara bantuan sosial tunai yang pernah ia terima terakhir kali hanya datang dua kali sekitar 10 tahun lalu. Dalam beberapa tahun terakhir, ia mengaku tak lagi tersentuh bantuan, terutama dari pemerintah desa.

Monika kini menggantungkan harapannya pada bantuan serta kepedulian sesama dan uluran tangan pihak yang peduli.

“Saya tidak bisa kerja. Tapi saya tidak mau cucu-cucu saya putus sekolah,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga: Naik 5,45%, Gubernur Melki Resmi Tetapkan Upah Minimum Provinsi NTT Tahun 2026

Di usia senjanya dan raut renta wajahnya, Monika bukan hanya simbol ketangguhan, tapi juga wajah dari banyak lansia yang hidup dalam senyap dan nyaris tak terlihat oleh sistem. Kisahnya menjadi seruan agar perhatian terhadap warga rentan tak hanya menjadi janji, tapi nyata dalam aksi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

X