daerah

Jejak Cinta Seorang Alumni: Ejhi Serlenso dan Buku-Buku untuk SDI Compang Ngeles

Rabu, 4 Juni 2025 | 07:32 WIB
Ejhi Serlenso saat menyerahkan bantuan buku yang diterima langsung oleh Viktor Nasus, selaku Kepala Sekolah SDI Compang Ngeles. (Redaksi )

Idenusantara.com - Hari itu, langit di atas SDI Compang Ngeles tampak biasa saja. Angin lembut menyentuh dedaunan, riuh tawa anak-anak menggema dari ruang kelas berdinding tembok kusam dan kropos termakan usia. Namun ada yang berbeda. Sekolah yang terletak di salah satu sudut kampung di Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur ini tengah menanti sosok istimewa yang kembali, bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan hati penuh kepedulian.

Dialah Ejhi Serlenso. Nama yang mungkin tak begitu dikenal oleh publik luas, tapi di lingkungan sekolah itu, ia adalah kisah yang kembali hidup. Ia adalah alumni yang pernah duduk di bangku yang kini dipakai oleh generasi setelahnya. Ia adalah anak kampung yang tumbuh bersama keterbatasan, tapi memilih untuk tak melupakan akar tempat ia pernah bermimpi.

Baca Juga: Wujud Peduli Sesama, Ejhi Serlenso Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Penyandang Disabilitas di Manggarai Timur

Kini, bertahun-tahun setelah menamatkan pendidikan dasar, Ejhi pulang. Tidak untuk bernostalgia semata, tapi untuk membawa cahaya kecil dalam bentuk buku-buku bacaan, sebagai sumbangan kepada SDI Compang Ngeles, sekolah yang telah menanamkan benih pertama dalam perjalanan hidupnya.

Buku sebagai Wujud Terima Kasih

Di tengah acara sederhana yang dihadiri kepala sekolah, beberapa guru, serta siswa-siswi, Ejhi menyerahkan bantuan buku secara simbolis. Puluhan buku bacaan mulai dari cerita anak, ensiklopedia mini, hingga buku motivasi, diterima langsung oleh Kepala Sekolah, Viktor Nasus, dengan senyum hangat.

“Pemberian buku ini adalah bentuk kepedulian saya sebagai alumni kepada adik-adik saya di sini. Saya percaya, pendidikan adalah tongkat estafet. Dan buku-buku ini, meski sederhana, bisa menjadi jembatan masa depan bagi mereka,” ujar Ejhi kepada media, Selasa (3/6/2025).

Bagi Ejhi, pendidikan bukan hanya angka dan gelar, tetapi tentang akses dan kesempatan. Ia paham betul bagaimana rasanya belajar di tengah keterbatasan. Ketika satu buku dibaca bergantian oleh lima orang, ketika guru harus mengajar dengan spidol yang hampir habis, ketika motivasi tumbuh bukan karena fasilitas, melainkan karena mimpi dan dorongan dari dalam diri.

“Saya hanya ingin adik-adik di sini merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa kami, para alumni, tetap ada untuk mereka. Saya ingin buku-buku ini menjadi awal dari tumbuhnya rasa ingin tahu mereka, dari berkembangnya imajinasi, dan dari semakin kuatnya karakter mereka,” tambahnya.

Sebuah Seruan Sunyi untuk Para Alumni

Apa yang dilakukan Ejhi bukan sekadar aksi simbolis. Lebih dari itu, ia membawa pesan yang kuat kepada seluruh alumni SDI Compang Ngeles bahwa cinta pada almamater bisa ditunjukkan dengan cara yang sederhana tapi bermakna.

“Pendidikan harus menjadi prioritas bersama. Alumni memiliki peran penting. Kita mungkin tidak bisa menyumbang dalam jumlah besar, tapi dengan hati yang tulus, kita bisa membuat perubahan,” katanya.

Ia mengajak alumni lainnya untuk kembali, untuk berbagi, dan untuk hadir. Tidak harus dalam bentuk uang atau materi. Mungkin dalam bentuk motivasi, bimbingan belajar, program mentoring, atau bahkan sekadar menyapa para guru dan siswa sebagai tanda bahwa mereka masih diingat.

“Kita semua berasal dari sini. Dan jika hari ini kita bisa berdiri di tempat yang lebih baik, itu karena dulu kita pernah duduk di bangku sekolah ini,” tutur Ejhi, matanya menerawang, seolah melihat potret kecil dirinya sendiri yang dulu mengeja huruf di kelas satu.

Halaman:

Tags

Terkini