Guru, Pemerintah, dan Tanggung Jawab Bersama
Kehadiran Ejhi juga menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak bisa dibebankan hanya pada guru dan sekolah. Perlu kolaborasi semua pihak, dari pemerintah, masyarakat, hingga alumni untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan berkualitas.
“Anak-anak kita adalah aset. Mereka harus dibekali dengan fasilitas yang layak, guru-guru yang kompeten, dan lingkungan belajar yang mendukung. Jangan sampai mereka kehilangan masa depan hanya karena kita lalai di masa kini,” tegasnya.
Ejhi menyoroti pentingnya pembangunan karakter sejak dini. Menurutnya, budaya literasi bukan hanya soal bisa membaca, tapi juga membangun cara berpikir, empati, imajinasi, dan daya saing anak-anak ke depan.
“Kalau kita ingin mengurangi pengangguran, meningkatkan kualitas hidup, dan membangun bangsa dari pinggiran, semua itu harus dimulai dari sekolah dasar seperti ini,” ucapnya.
Mata yang Berbinar, Mimpi yang Menyala
Setelah acara, anak-anak mulai mengerubungi rak buku. Mereka membolak-balik halaman dengan rasa ingin tahu yang tulus. Tak sedikit dari mereka yang baru pertama kali memegang buku semacam itu. Beberapa bahkan tak sabar ingin membawa pulang dan membacanya di rumah.
Kepala sekolah, Viktor Nasus, menyampaikan apresiasi yang dalam.
“Bantuan ini bukan hanya soal jumlah buku, tapi soal semangat yang dibawanya. Kami para guru merasa tidak sendiri. Ada alumni seperti Ejhi yang tetap peduli dan hadir untuk mendukung sekolah ini," ujar Viktor Nasus.
Bagi anak-anak, hari itu mungkin akan menjadi kenangan manis. Tapi lebih dari itu, hari itu adalah bukti bahwa mimpi bisa diwariskan bahkan lewat buku yang sederhana.
Membawa Harapan Pulang ke Tanah NTT
Ejhi Serlenso telah menunjukkan bahwa cinta pada tanah kelahiran dan almamater tak selalu diwujudkan dalam hal besar. Kadang, cukup dengan pulang, membuka pintu perpustakaan, dan berkata: “Saya di sini untuk membantu.”
Karena sejatinya, membangun bangsa dimulai dari hal-hal kecil. Dari satu anak yang membaca satu buku, lalu bermimpi menjadi guru, insinyur, dokter, atau bahkan presiden. Dan dari satu alumni yang memilih untuk tak melupakan dari mana ia berasal.
Di SDI Compang Ngeles, cinta itu kini sudah kembali. Dalam bentuk buku, dalam bentuk harapan. Dan dalam bentuk Ejhi Serlenso.***