Idenusantara.com-Bripka Herybertus Tena seorang anggota polisi yang bertugas di Polres Manggarai Timur, kembali menujukan kepedulianya terhadap salah satu warga Rofinus Das (51) penderita Stroke di kampung Wetok, Desa Langkas, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap masyarakat, Bripka Hery Tena memberikan pendampingan medis, kunjungan kepada bapa Rofinus Das (51) seorang warga kurang mampu yang menderita penyakit Stroke, pada Minggu (22/6/2025).
Baca Juga: Parkir Liar Kian Marak di Ruteng, Dishub Manggarai Diduga Abaikan Penegakan Aturan
Rofinus Das (51) yang diketahui mengalami stroke sejak 2012 lalu, yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Kedatangan Bripka Hery Tena untuk memastikan agar Rofinus Das mendapatkan pengobatan yang layak.
"Kedatangan saya untuk memastikan bapak Rofinus Das harus mendapatkan pengobatan. Kita berdoa bersama semogga Kitabisa.com secepatnya merespon laporannya," kata Bripka Hery
Beripka Hery juga menambahkan, kunjungan ke rumah bapa Rofinus Das di Wetok, desa Langkas guna untuk memastikan keadaan kesehatan dari bapa Rofinus Das dan memastikan data kependudukan agar secepatnya membuat laporan ke Kitabisa.com.
"Kehadiran Polri menujukan bahwa Polisi itu benar-benar hadir di tengah masyarakat, membantu masyarakat itu suda menjadi tugas pokok anggota polri," ungkap Bripka Hery
Baca Juga: Tanggung Jawab Moral Mahasiswa, HMCR Galang Dana Bantu Warga di Cibal
Aksi nyata yang dilakukan oleh Bripka Hery Tena ini membuktikan bahwa kebaikan dan kepedulian menjadi langkah nyata, Polri harus menujukan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan uluran tangan kasih, dengan mengajak masyarakat untuk mau berbagi dan membantu sesama yang membutuhkan.
Sementara itu Theresia Imur (49) istri dari bapa Rofinus Das, harus bekerja keras sebagai tulang punggung keluarga semenjak suaminya menderita stroke sejak 2012 lalu.
Ia harus membanting tulang sebagai buruh tani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, penghasilannya yang tidak menentu membuat anak mereka, Sandri (13), harus mengubur impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.