Kini "Kopi Buk SDI Congkar" resmi jadi bagian Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan akan masuk Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) SDI Congkar.
“Semua siswa terlibat, tapi tergantung jenis kegiatan. Panen, sangrai, dan penumbukan hanya libatkan siswa kelas tinggi,” tambahnya.
Dari tanam hingga marketing, semua dipelajari anak-anak.
Filosofi Kopi: Pahit-Manis Kehidupan dalam Cangkir
Bagi Hendrikus, Kopi Congkar bukan sekadar komoditas.
“Kopi Congkar mempunyai nilai filosofi: dari kopi kita bisa belajar menikmati proses, menerima pahit-manisnya kehidupan, serta menghargai momen sederhana bersama orang lain,” terangnya.
Adapun tawaran dan pesan yang ia sampaikan ke setiap pengunjung expo.
“Selamat datang bapak/ibu, nikmati kopi yang kami sediakan yaitu KOPI BUK SDI CONGKAR yang dikelola manual oleh siswa, ditumbuk bukan hasil penggilingan.”
Baca Juga: Jurnalis Juga Buruh, Di Balik Headline Ada Tinta yang Lelah
Ludes 7 Kg Sehari, Orang Tua Bangga
Meski baru produk perdana April 2026 dan belum punya PIRT/Halal, animo pasar terbukti tinggi.
“Pada satu kegiatan expo kami hanya sediakan kopi 7 kg sebagai barang promosi, ternyata semua laku terjual hanya satu hari tepatnya di hari ketiga Expo V Matim,” kata Hendrikus.
Kopi kemasan 250 gram dijual Rp25.000.
“Kami hanya pajang sebagai bahan pameran, namun masyarakat sangat antusias dan langsung membeli dengan melihat cover kopi asli yang ditumbuk,” tuturnya.