Dampaknya ke warga?
“Orang tua sangat mendukung dan berbangga karena kopi yang mereka hasilkan bisa dipromosikan ke tingkat kabupaten oleh anak mereka sendiri melalui lembaga pendidikan SDI Congkar,” jelasnya
Integrasi ke Mapel: Matematika Hitung Untung-Rugi Kopi
SDI Congkar membuktikan kopi bisa masuk kelas.
“Mengintegrasikan kopi ke mata pelajaran sangat mungkin. Misalnya matematika, kopi sebagai konteks kehidupan sehari-hari: menghitung untung-rugi, mengukur dan perbandingan, operasi hitung dasar,” jelas Hendrikus.
Prinsipnya: “Siswa diberi kesempatan mengalami secara langsung, karena belajar tidak cukup dengan menghafal. Siswa terlibat langsung dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran menjadi aktif, kreatif dan relevan.”
Baca Juga: Gema TIDAK! di Monas: Saat Pidato Presiden Prabowo Terbentur Realita Buruh May Day 2026
Jawab Stigma “Kepsek Kok Dagang”
Soal stigma kepala sekolah jualan kopi, Hendrikus menerangkan bahwa ini bukan merugikan orang lain dan lembaga.
"Pada dasarnya untuk membangun dan tidak merugikan orang lain, dan juga bukan mencari keuntungan pribadi dengan menjual lembaga pendidikan,” ujarnya.
Ia memastikan program tidak ganggu KBM. “Kami tidak memanfaatkan semua waktu hanya untuk urus kopi. Kami akan atur waktu yang dituangkan dalam KOSP dengan tidak mengganggu waktu belajar siswa di kelas,” jelas Hendrikus.
Visi ke Depan: Dari Expo ke Kemandirian
Meski belum ada rencana besar karena belum evaluasi bersama, Hendrikus optimistis. 99% petani Desa Compang Congkar penghasilan kopi, sehingga memudahkan kami ke depannya untuk kerja sama ketika program ini meningkat.
Ia berharap sekolah lain replikasi.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kecintaan pada potensi daerah. Mari kita dukung dan promosikan produk lokal sebagai bagian dari pendidikan karakter, kewirausahaan, dan kebanggaan budaya, " pungkasnya.