Idenusantara.com-Di tengah dunia yang terbiasa dengan figur presiden atau raja sebagai kepala negara, sejumlah negara memilih jalan berbeda. Sistem pemerintahan mereka tak lazim, mulai dari dipimpin rohaniwan, dua kepala negara yang berganti tiap enam bulan, hingga kolektivitas tujuh anggota dewan. Berikut adalah lima negara dengan sistem kepemimpinan paling unik versi fakta di lapangan.
Baca Juga: Kinerja Satu Tahun Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Kepuasan Masyarakat Capai 80,5 Persen
5. Vatikan: Negara Terkecil dengan Paus sebagai Kepala Negara
Vatikan bukan sekadar pusat Gereja Katolik, tetapi negara berdaulat penuh sejak Traktat Lateran 1929. Tidak ada presiden ataupun raja di sini. Kepala negaranya adalah Paus, yang juga memegang kekuasaan eksekutif tertinggi. Saat ini, posisi tersebut dijabat oleh Paus Leo XIV (terpilih Mei 2025), menggantikan Paus Fransiskus. Ia adalah pemimpin agama sekaligus kepala negara yang berkedudukan di Istana Vatikan, Roma .
4. San Marino: Dua Kepala Negara yang Berganti Tiap 6 Bulan
Republik San Marino, yang mengklaim sebagai republik tertua di dunia, mempertahankan tradisi unik dari abad ke-12. Alih-alih satu presiden, mereka memiliki dua kepala negara yang disebut Wali Kapten (Capitani reggenti). Pasangan ini dipilih oleh parlemen dari kubu yang berbeda dan hanya menjabat selama enam bulan, dilantik setiap 1 April dan 1 Oktober. Sistem ini mirip dengan konsul di era Romawi kuno dan menjamin tidak ada kekuasaan mutlak yang bertahan lama.
Baca Juga: Sarasehan Nasional di Maumere : Obligasi Daerah Jadi Strategi Baru NTT Keluar Dari Jerat Kemiskinan
3. Swiss: Tidak Ada "Bos", Semua Dipimpin Tujuh Orang
Swiss tidak memiliki satu kepala negara pun. Fungsi kepala negara dijalankan secara kolektif oleh Dewan Federal yang beranggotakan tujuh orang. Mereka setara; tidak ada yang menjadi "bos". Setiap tahun, salah satu dari mereka bergilir menjabat sebagai Presiden Konfederasi, tetapi posisi ini hanya seremonial dan tetap merupakan ketua di antara yang setara (primus inter pares). Keputusan besar diambil melalui musyawarah bersama, mencerminkan demokrasi langsung dan kolegial yang sudah mengakar sejak 1848 .
2. Andorra: Dua Pemimpin, Tapi Tak Tinggal di Sana
Andorra adalah diarki parlementer dengan sistem unik: dipimpin oleh dua pangeran bersama (co-princes). Satu kursi dijabat oleh Uskup Urgell dari Spanyol, dan satunya lagi oleh Presiden Prancis (saat ini Emmanuel Macron). Uniknya, mereka bahkan tidak tinggal di Andorra. Presiden Prancis menjadi satu-satunya kepala negara di dunia yang terpilih secara demokratis (oleh rakyat Prancis), namun secara konstitusional berperan sebagai penguasa monarki di negara lain .
Baca Juga: Belajar dari Kasus Bundir Anak di Ngada: Masalah dan Solusi
1. Nauru: Presiden Dipilih Parlemen, Tanpa Militer
Nauru memuncaki daftar ini. Negara kepulauan mikro di Pasifik ini tidak memiliki presiden yang dipilih langsung oleh rakyat. Presiden dipilih oleh anggota parlemen dari kalangan mereka sendiri, mirip sistem perdana menteri. Jika presiden kehilangan dukungan mayoritas di parlemen, ia harus lengser. Selain itu, Nauru adalah satu-satunya negara di dunia yang tidak memiliki ibu kota resmi (Yaren adalah ibu kota de facto). Negara ini juga tidak memiliki angkatan bersenjata; pertahanan menjadi tanggung jawab Australia secara informal .