IDENUSANTARA.COM - Memanfaatkan suasana Ramadan yang identik dengan ketenangan dan refleksi diri, jajaran staf di lingkungan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Solok justru memilih langkah produktif yang tidak biasa. Di sela-sela jam kerja dan waktu istirahat menjelang berbuka puasa, mereka terlihat tekun memegang jarum dan benang, mempraktikkan langsung keterampilan sulaman tangan yang sebelumnya diajarkan dalam program pelatihan bagi pelaku UMKM.
Kegiatan tersebut bukan sekadar pengisi waktu luang selama Ramadan. Lebih dari itu, praktik menyulam ini menjadi bagian dari strategi pembelajaran internal agar aparatur benar-benar memahami proses produksi yang selama ini mereka sosialisasikan kepada masyarakat. Dengan merasakan sendiri tingkat kesulitan, ketelitian, dan kesabaran yang dibutuhkan, para staf diharapkan mampu memberikan pendampingan yang lebih aplikatif dan solutif kepada pelaku usaha.
Baca Juga: Jangan Sampai Terlewat, Catat Waktu Imsak dan Buka Puasa Hari ke-7 Ramadhan 1447 H!
Kepala Bidang Industri, Catra Desiana, menegaskan bahwa pendekatan ini penting agar program pembinaan UMKM tidak berhenti pada teori.
"Kami ingin merasakan langsung bagaimana proses membuat sulaman itu. Dengan begitu, ketika kami melakukan pembinaan, kami paham betul tantangan yang dihadapi para perajin," ujarnya.
Menurutnya, sulaman tangan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan daerah. Apalagi, wilayah Sumatera Barat dikenal kaya akan motif dan kearifan lokal yang bisa menjadi identitas khas dalam setiap karya. Namun, potensi tersebut hanya akan optimal jika dibarengi inovasi desain, peningkatan kualitas produksi, serta pengemasan yang menarik dan berdaya saing.
Baca Juga: Disorot Soal Kontribusi, Tasya Kamila Buka 'Laporan’' Usai Delapan Tahun Studi di Luar Negeri
Salah seorang staf, Tia Waroka, mengaku baru benar-benar memahami betapa detail dan rumitnya proses pembuatan sulaman setelah mencoba sendiri.
"Awalnya terlihat sederhana, tapi ternyata butuh kesabaran luar biasa. Dari sini saya jadi lebih menghargai kerja para perajin," tuturnya.
Ia menambahkan, pengalaman tersebut memberinya perspektif baru dalam menyusun program pelatihan dan pendampingan. Bukan hanya soal target produksi atau pemasaran, tetapi juga bagaimana memastikan perajin mendapatkan dukungan yang sesuai dengan realitas kerja mereka sehari-hari.
Langkah yang diambil jajaran dinas ini dinilai sebagai bentuk komitmen untuk membangun UMKM dari dalam, dimulai dari peningkatan kapasitas aparatur. Ramadan pun tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga ruang kreatif untuk memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan.
Dengan pendekatan partisipatif semacam ini, harapannya sulaman tangan tidak sekadar menjadi produk kerajinan, melainkan simbol ketekunan, identitas budaya, sekaligus sumber penghidupan yang mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat setempat.
Artikel Terkait
Disergap di Jalur Strategis, 21 Kg Sabu Asal Aceh Gagal Tembus Jakarta: Dua Kurir Diciduk di Deli Serdang
Dentuman Misterius dari Dalam Rumah, Atap Mendadak Gosong: Terungkap Ini Sumber Kebakaran di Sleman
Sarung yang Menjadi Senjata: Polisi Ciduk Lima Remaja Bersenjata Celurit di Tengah Malam Ramadan
Usai Terima Laporan Kenaikan, Mentan Amran Sidak Pasar, Harga Langsung Turun 15 Ribu
Geruduk Polres Manggarai, LSM LPPDM dan Keluarga Almarhumah Restiana Tija Tuntut Jawaban atas Kematian Misterius
Penyidik Polres Manggarai Segera Proses Laporan Dugaan Penyebaran Konten Asusila dan Pelanggaran Data Pribadi
Arief Eka Saputra Bidik UMKM Sekitar GSKBB Tembus Pasar Nasional