nasional

Prabowo Dorong Implementasi Konsensus ASEAN untuk Myanmar dalam Sesi Retreat KTT ke-46

Senin, 26 Mei 2025 | 22:42 WIB
Prabowo Dorong Implementasi Konsensus ASEAN untuk Myanmar dalam Sesi Retreat KTT ke-46

Idenusantara.com - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam mendorong penyelesaian damai dan inklusif atas krisis Myanmar, saat menghadiri sesi retreat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-46 ASEAN di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Senin (26/5). Dalam forum tertutup antarpemimpin ASEAN itu, dua isu utama dibahas secara mendalam, yakni implementasi konsensus lima poin terkait Myanmar serta pertukaran pandangan strategis mengenai isu-isu regional dan global.

Sesi retreat merupakan format diskusi informal namun substansial yang dirancang untuk memungkinkan para kepala negara ASEAN menyampaikan pandangan secara terbuka dan langsung. Dalam sesi ini, Presiden Prabowo tampil dengan sikap diplomatis namun tegas dalam mengangkat isu Myanmar yang hingga kini masih dilanda ketegangan politik dan kemanusiaan.

“Indonesia menegaskan pentingnya implementasi penuh konsensus lima poin, dengan menekankan perlunya dialog nasional yang inklusif dan pengiriman bantuan kemanusiaan yang tepat sasaran,” ujar Presiden Prabowo dalam sesi tersebut.

Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Tegaskan Posisi Strategis Indonesia di KTT ASEAN ke-46 di Kuala Lumpur

Konsensus lima poin ASEAN merupakan pijakan utama organisasi kawasan dalam merespons krisis Myanmar pascakudeta militer 2021. Namun, lambannya pelaksanaan dan sikap keras junta militer Myanmar telah menjadi tantangan serius bagi kesatuan dan kredibilitas ASEAN sebagai organisasi regional.

Presiden Prabowo secara aktif membangun komunikasi bilateral dengan sejumlah pemimpin ASEAN demi mencari titik temu yang konkret. Dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Jakarta pada November 2024, kedua pemimpin sepakat untuk memperkuat komitmen terhadap konsensus tersebut. “Terkait Myanmar, kami sepakat untuk memastikan implementasi lima poin konsensus, khususnya dialog nasional yang inklusif dan pengiriman bantuan kemanusiaan,” ungkap Presiden Prabowo dalam pertemuan tersebut.

Sikap serupa juga ditunjukkan saat Prabowo bertemu dengan Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra di Bangkok, Senin (19/5). Dalam kesempatan itu, Presiden menekankan pentingnya kesamaan visi antara Indonesia dan Thailand dalam menyikapi krisis Myanmar. Ia juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif diplomasi yang diambil Thailand dalam mencari jalan damai.

“Kami juga menegaskan pentingnya dialog nasional yang inklusif, yang bisa mencapai perdamaian dan stabilitas di Myanmar,” kata Presiden.

Tak hanya fokus pada isu Myanmar, sesi retreat juga menjadi ajang pertukaran pandangan strategis terkait berbagai dinamika kawasan dan global. Dalam berbagai pertemuan bilateral maupun multilateral sebelumnya, Indonesia konsisten mendorong penguatan solidaritas ASEAN, memperkuat stabilitas kawasan, serta mewujudkan visi bersama menuju Asia Tenggara yang damai, stabil, dan sejahtera.

Menurut Presiden, dalam menghadapi kompleksitas geopolitik global, ASEAN perlu meningkatkan daya saing kolektif serta membangun ketahanan regional melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis prinsip-prinsip internasional.

KTT ASEAN ke-46 ini menjadi momen penting bagi Indonesia di bawah kepemimpinan baru Prabowo Subianto untuk mempertegas posisi strategisnya di kawasan. Kehadirannya dalam sesi retreat tidak hanya memperlihatkan komitmen Indonesia terhadap penyelesaian isu Myanmar, tetapi juga peran aktifnya dalam membentuk arsitektur keamanan dan perdamaian di Asia Tenggara.

Hasil dari sesi retreat ini akan menjadi pijakan krusial dalam merumuskan arah kebijakan bersama ASEAN ke depan, termasuk dalam menentukan langkah-langkah konkret terhadap krisis Myanmar dan merespons dinamika global yang semakin kompleks.***

Tags

Terkini