nasional

Waspada Wabah ASF di Manggarai Timur: Pemerintah Daerah Bergerak Cepat Lindungi Ternak dan Peternak

Sabtu, 31 Mei 2025 | 21:44 WIB
Foto ilustrasi ratusan babi mati karena ASF (Sumber foto: Jubi.id)

Idenusantara.com - Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur kini tengah menghadapi tantangan besar di sektor peternakan setelah ratusan ternak babi dilaporkan mati mendadak akibat dugaan kuat serangan virus African Swine Fever (ASF). Hingga Mei 2025, tercatat sebanyak 468 ekor babi milik warga di 21 desa yang tersebar di tujuh kecamatan telah mati akibat penyakit menular akut ini.

ASF merupakan penyakit yang sangat mematikan bagi babi, baik peliharaan maupun babi hutan. Meski tidak menular ke manusia, virus ASF sangat resisten dan dapat bertahan lama di lingkungan, sehingga memicu kerugian ekonomi besar bagi peternak.

Baca Juga: Puluhan Ekor Babi Mati di Elar-Manggarai Timur, Pemda Matim di Minta Segera Tanggapi

Sekretaris Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Timur, Ima Raydais, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pengambilan sampel darah pada babi yang mati, dan hasil laboratorium menunjukkan positif ASF.

“Kami telah mengeluarkan imbauan resmi dari Kepala Dinas dan juga Bupati untuk memperketat pengawasan serta segera mengambil langkah preventif di lapangan,” ujar Ima.

Pemerintah Daerah Tidak Tinggal Diam

Sebagai bentuk tanggap darurat, Dinas Peternakan Manggarai Timur bergerak cepat dengan mengerahkan petugas Puskeswan di tiap wilayah terdampak untuk:

  • Mendistribusikan desinfektan kepada masyarakat guna mensterilkan kandang dan lingkungan sekitar.
  • Memberikan vitamin kepada babi yang masih sehat agar daya tahan tubuh ternak tetap terjaga.
  • Melakukan sosialisasi intensif kepada masyarakat mengenai ASF, cara penularannya, dan langkah pencegahannya.

Langkah-langkah ini diharapkan dapat menekan penyebaran virus ke wilayah lain di Manggarai Raya.

“Kami mengajak masyarakat untuk lebih waspada, menjaga kebersihan kandang, dan segera melaporkan kematian ternak secara tidak biasa kepada petugas terdekat,” tambah Ima.

Ancaman Serius bagi Ekonomi Peternak

Data Dinas Peternakan menunjukkan bahwa ini bukan kali pertama ASF menyerang wilayah Manggarai Timur. Pada tahun 2024 lalu, sebanyak 763 ekor babi mati akibat wabah serupa. Meskipun sempat mereda, kemunculan kembali wabah ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak bahwa pengawasan dan kesigapan perlu ditingkatkan secara berkelanjutan.

Wabah ini sangat berdampak terhadap mata pencaharian peternak lokal, karena babi merupakan salah satu sumber ekonomi utama di wilayah ini.

Bersama Cegah Penyebaran ASF!

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur mengimbau seluruh masyarakat dan peternak untuk bersama-sama:

Halaman:

Tags

Terkini