nasional

Pastoral Humoris, Romo Hans Jeharut Jembatani Kesenjangan Literasi Melalui Kisah Berbasis Budaya

Minggu, 21 September 2025 | 14:47 WIB

Ruteng, Idenusantara.com - Di tengah kelesuan minat baca masyarakat yang jenuh dengan isu-isu berat, buku "Hidup Itu Indah, Tertawalah" hadir sebagai angin segar.

Diluncurkan dengan sambutan hangat berbagai komunitas dan masyarakat di Gramedia Matraman pada 7 September 2025, buku karya Romo Hans Jeharut Pr ini bukan sekadar kumpulan cerita humor, melainkan sebuah strategi pastoral yang unik dan cerdas.

Menggunakan tawa sebagai medium, Romo Hans berusaha menjembatani kesenjangan literasi, sekaligus merefleksikan kekayaan budaya Indonesia yang beragam.

Ide ini bermula dari keprihatinan Bernada Rurit, sang penyunting, yang melihat tradisi intelektual Katolik kian memudar.

"Buku-buku bertema serius yang cenderung berat tidak lagi menarik minat. Ini makin membuat masyarakat tambah malas membaca,” ujar Rurit.

Oleh karena itu, ia mendorong Romo Hans untuk menulis cerita humor yang dibalut dengan konteks budaya dari pengalaman tugasnya di berbagai daerah.

Hasilnya adalah sebuah karya yang membumi, segar, dan mudah dicerna.

Romo Hans, yang juga Sekretaris Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), mengakui bahwa pendekatan ini disengaja.

"Saya diarahkan untuk memastikan adanya konteks dalam setiap cerita sehingga tergambar budaya dan kebiasaan unik masyarakat tempat saya bertugas,” katanya.

Setiap lelucon dalam buku ini, seperti kisah "Dana No Uang Yes" atau "Apakah Singkong Perlu Didoakan?", menjadi jendela untuk mengenal lebih dalam keunikan budaya dan adat istiadat setempat.

Para peserta nampak antusias mengikuti peluncuran buka karya Romo Hans Jeharut di Gramedia, Matraman, Jakarta

Melampaui Humor, Merajut Kebhinekaan

Humor yang dihadirkan Romo Hans tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung pesan yang mendalam.

Jurnalis Philipus Parera mengakui adanya pesan kemanusiaan yang terkandung dalam setiap tulisan dalam buku tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini