nasional

Tren Baru Pilpres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Melejit, Tinggalkan Prabowo di Survei Juli 2026

Sabtu, 1 Agustus 2026 | 05:30 WIB
Tren Baru Pilpres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Melejit, Tinggalkan Prabowo di Survei Juli 2026 (Foto:Ist.net FB)

Tren Dedi terus menanjak: dari 16,8% pada Desember 2025, 19% di Januari 2026, 23,1% di Maret-April 2026, hingga 31,4% di Juli 2026. Sebaliknya, Prabowo turun dari 41,5% di Desember 2025 menjadi 18,8% di Juli 2026.

Ketika kandidat dipersempit, keunggulan Dedi makin nyata:
- Simulasi 5 nama: Dedi 41,9%, Prabowo 21,9%
- Simulasi 4 nama: Dedi 45,2%, Prabowo 23,5%
- Simulasi 3 nama: Dedi 46,9%, Prabowo 28,8%, Anies 17%.

Baca Juga: Di Hari Pertama Sebagai Kepala BGN, Sudaryono Keceplosan Sebut MBG Ternyata Tender Politik Prabowo?

Popularitas vs Kesukaan

Meski unggul elektabilitas, tingkat pengenalan publik terhadap Dedi masih di bawah Prabowo. Indikator mencatat 98,8% responden mengenal Prabowo, sementara Dedi 88,2%.

Namun tingkat kesukaan justru berbalik. Dari yang mengenal, 88,3% menyukai Dedi. Sementara yang menyukai Prabowo 68,1%.

Survei juga mengukur kepuasan kinerja Prabowo sebagai presiden. 49,5% menyatakan puas, 48,8% kurang/tidak puas, dan 1,6% tidak menjawab.

Metodologi Survei

SMRC melakukan survei 5-19 Juli 2026 terhadap 749 responden dengan margin of error ±3,7%. Sebanyak 83,8% diwawancara via telepon, 16,2% tatap muka.

Indikator melakukan survei 14-24 Juli 2026 dengan 4.250 responden melalui tatap muka dan _multistage random sampling_. Margin of error ±1,6% pada tingkat kepercayaan 95%.

Kedua lembaga menegaskan metodologi berbeda sehingga angka tidak bisa dibandingkan langsung. Namun polanya sama: Dedi Mulyadi berada di atas Prabowo dalam sejumlah simulasi.

Baca Juga: Bea Cukai Akui Dana Operasional dari Hasil Suap Dipakai untuk Biayai Misi Intelijen Tertutup

Tantangan ke Depan

Naiknya elektabilitas Dedi dinilai terkait gaya kepemimpinannya di Jabar yang komunikatif dan turun langsung ke masyarakat. Namun jalan ke Pilpres masih panjang.

"Elektabilitas tinggi menjadi modal politik, tetapi belum otomatis menentukan dukungan partai maupun keberhasilan pemilu. Koalisi, citra publik, dan isu nasional akan jadi penentu," demikian catatan analis.

Halaman:

Tags

Terkini