IDENUASANTARA.COM Smartfren meluncurkan produk terbaru paket internet kuota 100 GB yang dibanderol dengan harga hanya Rp100 ribu pada Selasa (25/7).
Peluncuran produk terbaru ini sangat mungkin memicu perang tarif di antara para operator seluler.
Namun, menurut Chief Marketing Officer Smartfren Sukaca Purwokardjono, peluncuran produk barunya ini bukan untuk perang tarif, melainkan dalam rangka pemenuhan kebutuhan internet yang sudah seperti sembako.
"Kalau perang tarif dari kemarin-kemarin. Perang tarif sudah dari kemarin-kemarin, jadi bagi kita bagaimana kebutuhan internet ini bisa kita penuhi. Karena kebutuhannya yang tadi saya bilang sudah kayak sembako," kata Sukaca di kantor Smartfren, Jakarta, Selasa (25/7).
Terkait kualitasnya, Sukaca menyebut pihaknya telah memperhitungkan hal tersebut. Dengan demikian, konsumennya tak perlu khawatir pada kualitas internet yang dinikmatinya.
"Kualitas sudah kita perhitungkan, kenapa kita berani meluncurkan produk ini, semua sudah kita perhitungkan, okupansi kita punya jaringan. Jadi jangan khawatir, pakai aja," tuturnya.
Isu perang tarif di industri telekomunikasi sendiri bukanlah hal baru.
Perang tarif sebetulnya sangat menguntungkan bagi konsumen, karena konsumen bisa menikmati layanan dengan harga yang murah. Namun, strategi semacam ini memberikan dampak yang kurang baik bagi keberlanjutan industri telekomunikasi.
Hal ini pernah disinggung Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Zulfadly Syam. Menurutnya, perang tarif dapat mengganggu pembangunan infrastruktur telekomunikasi.
"Kalau perang tarif terlalu minim artinya infrastruktur enggak bisa dibangun dengan sangat baik di daerah rural (pedesaan)," ujar dia sela acara Hasil Survei Internet Service Provider Industry & Market Profile Tahun 2023 di Jakarta, Kamis (30/3).
Infstruktur sendiri menjadi salah satu masalah utama dalam pertumbuhan industri telekomunikasi.
Dalam survei yang dilakukan APJII pada 2023 terhadap 239 anggotanya, infrastruktur menjadi masalah utama, baik dari biaya pemasangan dan pemeliharaan yang tinggi (23,8 persen), hingga sulitnya infrastruktur menjangkau akses layanan terutama yang berada di daerah remote dan rural (23,4 persen).
Masalah lainnya adalah persaingan yang terlalu tinggi (21,3 persen), regulasi dan kebijakan yang kurang mendukung (15,9 persen), serta terbatasnya akses ke pemodalan (10,5 persen).
Alih-alih bersaing keras dalam hal tarif, Zulfadly mengatakan yang perlu lebih diperhatikan adalah apakah kualitas layanan terjaga atau bahkan naik.
Berapa tarif operator lain?
Harga yang diberikan Smartfren ini terbilang murah untuk kuota sebesar itu. Umumnya, kuota 100 GB dibanderol dengan harga di atas Rp100 ribu, bahkan beberapa operator membanderol di atas Rp150 ribu.