peristiwa

Tuak Putih dan Siri Pinang Penunjang Ekonomi di Sepanjang Jalur 40

Rabu, 27 Juli 2022 | 23:58 WIB
Deretan Tuak Putih berjejer di Jalur 40 Kota Kupang (Foto Ekslusif)

  1aa

IDENUSANTARA.COM - Tuak atau  Laru Putih  yang biasa disebut masyarakat kota Kupang serta siri  dan pinang menghiasi sepanjang Jalur 40 Kota Kupang, mulai dari Terminal Sikumana hingga Jembatan Petuk II. 

Deretan Laru Putih, siri dan pinang itu demi memanfaatkan waktu dan tempat seadanya hanya demi pemenuhan kebutuhan pokok rumah tangga, mereka relah untuk mengais rezeki dengan cara memajangkan kedua jenis utama jualan mereka di sepanjang jalur 40 itu 

Terlihat suasana begitu akrab saat mereka menjaga jualan tuak atau Laru putih, sirih dan pinang yang berjejer di atas meja darurat dari bahan kayu. Selain itu mereka membawa anak-anak untuk berada di dekat meja jualan mereka.

Ketika dihampiri Tim IdeNusantara, mereka terlihat begitu bersahaja dan langsung memberi seteguk minuman Laru putih. 

Marselina Liunes (38) Sedang Menjaga Jualan Tuak Putih di Jalur 40 (Foto Ekslusif)

Cerita Marselina Liunesi (38) asal Oenlasi TTS salah seorang pedagang di Jalur 40 antara terminal Sikumana dan perumahan  BTN, mereka rela berjualan Laru dintempat itu hanya untuk kebutuhan hidup keluarga dan untuk biaya anak sekolah.

Menurutnya, Laru Ia membelinya di Naimata Kecamatan Liliba,. Setiap hari ia membeli 3 Jirigen  ukuran 5 liter dengan harga Rp 20.000, dan dijual lagi dalam bentuk botol Aqua 1.600 ml seharga Rp 10.000/botol.

Marselina menyatakan mereka rela berjualan di lokasi penghijauan jalur 40 hanya semata-mata demi pemenuhan kebutuhan keluarganya, dan keterbatasan modal serta tidak ada tempat khusus untuk dijadikan tempat jualan. 

Kisahnya selain berjualan, mereka juga memungut barang bekas karena meja jualan mereka persis di samping Countener Sampah milik Dinas Kebersihan Kota Kupang, dan  sekaligus mereka mengamankan sampah yang berserakan.

Kisah yang sama disampaikan Daniel Banoet (42) asal Kolbano TTS, bahwa mereka memilih berjualan di tempat itu karena demi kebutuhan keluarga dan untuk membiaya anak sekolah.

Diniel Banoet menuturkan mereka memilih berjualan di tempat itu karena ketiadaan tempat dan tidak bisa menyewa tempat tempat jualan karena ketiadaan modal. 

Ungkap Dailniel, mereka hanya memiliki modal sekitar Rp 200.000 - Rp 300.000, dan itu yang bisa ia jual  Laru, pinang , sirih dan pisang. 

Karena berjualan di tempat yang bukan sebagai lahan usaha, Daniel, Marselina dan penjual lainnya berusaha untuk membersihkan semua sampah yang berserakan di sekitar kountener sampah. 

Baik Daniel maupun Marselina dan beberapa penjual lainnya meminta ada perhatian pemerintahtah  baik Pemkot Kupang maupun Pemrov NTT untuk membantu mereka semacam modal usaha dan tempat khusus usaha, sehingga mereka bisa berusaha seperti orang yang memiliki lapak pad umumnya.

Tags

Terkini