Cerpen : Secangkir Kopi Mendapatkan Selembar Undangan
Di samping perempatan di pinggir jalan raya tersedia warung kopi, pada saat senja aku duduk di antara keramaian manusia-manusia yang menikmati lelahnya pulang kerja. Tempat kopi itu sederhana saja.
Begitu indah, ini adalah objek puisi yang paling indah, ini adalah puisi senja ditengah keramaian" Tulisku di story WhatsApp.
Pelayan warung itu pun menghampiri saya dan bertanya, mau pesan apa Nana.
" Kopi pahit satu Enu " ( Enu, sebutan untuk perempuan Manggarai ), seorang pelayan perempuan pun menyuguhkan segelas kopi yang aku pesan tadi.
" Enu makasih "
" Sama-sama "
" Makasih "
" Sama-sama "
" Ko makasih terus "
" Biar sama-sama terus " ( Godaku ).
" Nana sendirian saja ? " Dia bertanya ( Nana, sebutan untuk laki-laki Manggarai. )
" Iya Enu "
" Mau saya temanin? " Tanyanya.
" Bukannya jam kerja ya? "
" Ahhhh... Tenang saja Nana.. Masih ada pelayan yang lain didalam."
" Oh iya Enu... Silahkan " ( Lalu dia menarik kursi yang ada disampingku, dia pun duduk di atasnya.)
" Nana suka menyendiri atau tidak punya teman? " Dia pun membuka topik obrolan, setelah sekian lama kami terdiam.
" Lagi ingin menyendiri Enu, Kalau Enu ? ", Tanyaku.
Artikel Terkait
PUISI : Rembulan
PUISI : Deretan Kursi Jadi Saksi
PUISI : Namamu Dalam Sujudku Yang Paling Serius