Miris! Ini Penyebab Tingginya Angka Kemiskinan dan Ketimpangan Ekonomi di NTT, Solusinya?

photo author
Gordianus Jamat, Ide Nusantara
- Jumat, 23 Mei 2025 | 07:48 WIB
Foto Ilustrasi angka kemiskinan yang masih tinggi
Foto Ilustrasi angka kemiskinan yang masih tinggi

Solusi untuk Atasi Kemiskinan dan Ketimpangan Ekonomi di NTT Menurut Ahli

Solusi untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di NTT menurut para ahli biasanya berangkat dari analisis struktural, geografis, dan sosial ekonomi wilayah tersebut. Berikut adalah beberapa pandangan dan rekomendasi dari para pakar dan lembaga resmi:

Pertama, menurut Prof. Hermanto Siregar, seorang ahli Ekonomi Pembangunan di Kampus IPB University. Menurutnya, solusi untuk atasi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di NTT, yaitu dengan melakukan pendekatan pertanian berbasis wilayah (Agropolitan). Dalam pendekatan ini, difokuskan pada pengembangan sektor pertanian dengan mengidentifikasi komoditas unggulan lokal. Adapun caranya, yaitu dengan membangun klaster ekonomi berbasis desa agar nilai tambah tetap di desa dan mendorong diversifikasi pendapatan petani dan nelayan melalui agrowisata dan agroindustri.

Kedua, menurut Prof. Emil Salim seorang ahli Ekonom Senior di kampus Universitas Indonesia (UI). Solusi yang ditawarkan adalah dengan melakukan investasi pada infrastruktur dan sumber daya manusia. Menurut dia, infrastruktur jalan, air, dan listrik adalah kunci membuka akses ekonomi. Selain itu, pendidikan dan kesehatan harus dijadikan fondasi pertumbuhan jangka panjang. Sementara itu, pemerintah harus mengadopsi pendekatan "bottom-up" berbasis kebutuhan lokal.

Ketiga, Dr. Tri Widodo seorang ahli Ekonomi Regional di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia menawarkan solusi intervensi terpadu dan spesifik wilayah. Dimaksudkan dalam solusi ini adalah dengan mengatasi ketimpangan membutuhkan kebijakan yang berbasis spasial (berbeda antar kabupaten dan pulau). Adapun cara yang ditawarkannya yaitu dengan mendorong konektivitas antarwilayah melalui pelabuhan kecil dan subsidi logistik dan menciptakan “growth center” baru di pulau-pulau kecil untuk mengurangi ketergantungan pada pusat provinsi (Kupang).***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Gordianus Jamat

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X