Mobil Massa Dihadang, Bupati Menunggu di Depan Polres
Tak berhenti di situ. Saat massa hendak kembali ke Poco Leok, sebuah babak baru terjadi. Bupati Nabit bersama sejumlah orang tak dikenal menghadang kendaraan pengangkut massa di depan kantornya.
Ia kembali menuntut agar orator “provokator” diturunkan dan diserahkan padanya.
Situasi menjadi genting. Tapi sekali lagi, Polres Manggarai menunjukkan ketegasan. Mereka langsung mengamankan massa ke kantor Polres untuk mencegah bentrok lebih besar.
Tindakan ini membuat Bupati Nabit semakin berang. Ia bahkan menunggu di depan gerbang Polres dan meminta agar orator dihadirkan di hadapannya.
Baca Juga: Tersulut Emosi, Bupati Heri Nabit Hadang Mobil Pengangkut Massa Aksi dari Poco Leok
Namun, Polres Manggarai menolak permintaan itu. Mereka tahu, bukan saatnya tunduk pada amarah penguasa yang kehilangan kendali.
Apresiasi dan Harapan dari Rakyat: “Polisi Bersama Kami”
Langkah Polres Manggarai langsung menuai apresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Kristianus “Tino” Jaret, aktivis muda Poco Leok.
“Apa yang dilakukan Polres Manggarai sangat luar biasa. Di tengah kekacauan itu, mereka tidak ikut panik. Mereka justru mengayomi kami. Saya harap polisi tetap berpihak pada rakyat, bukan hanya penguasa,” tegasnya.
Senada dengan Tino Jaret, koordinator aksi Maximilianus Meter (Milin) juga menyampaikan rasa terima kasih atas profesionalisme aparat.
“Mereka menyelamatkan kami, menjaga agar konflik tidak meluas. Mereka tidak memihak, tapi berpihak pada yang lemah,” ucapnya.
Tujuh Tuntutan dari Bumi yang Terancam
Perwakilan masyarakat Poco Leok yang melakukan aksi demontrasi pada Rabu (05/06) bernama Atri membacakan tujuh tuntutan rakyat Poco Leok:
- Cabut SK Bupati tentang lokasi proyek geothermal.
- Hentikan seluruh aktivitas geothermal oleh PLN dan mitra.
- Hentikan intimidasi, kriminalisasi, dan politik adu domba.
- Hentikan pendanaan proyek oleh Bank KfW Jerman.
- Cabut penetapan Pulau Flores sebagai pulau geothermal.
- Tolak sertifikasi tanah ulayat oleh ATR/BPN.
- Bubarkan Tim Uji Petik bentukan Pemprov NTT.
“Kami tidak menjual mbaru bate kaeng, uma bate duat, wae bate teku, natas bate labar, dan compang bate takung. Kami MENOLAK proyek ini TANPA SYARAT!,” ucap Atri.
Artikel Terkait
Waspada! Pedagang Rokok Ilegal Terancam Pidana
Cetak Sejarah Baru di Desa Rana Gapang, Paud Harapan Bangsa Gelar Wisuda Angkatan Pertama
Daftar Sekolah di Manggarai Timur Terima Dana BOS 2025 Lebih dari Rp 1 Miliar
Tersulut Emosi, Bupati Heri Nabit Hadang Mobil Pengangkut Massa Aksi dari Poco Leok
Raja Ampat Bukan untuk Ditambang! Tokoh Muda Manggarai Desak Pemerintah Cabut Izin Tambang
Fransiscus Go Dukung Takuju Market Vol.2 untuk Dorong UMKM NTT Tembus Pasar Nasional dan Global
Gelombang ASN ke Jabatan Fungsional: Peluang atau Resiko?