Idenusantara.com - Situasi memanas di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pecah menjadi tontonan memilukan ketika Bupati Heribertus Geradus Laju Nabit, yang seharusnya menjadi teladan pemimpin daerah, justru diduga meledak dalam amarah dan menantang massa aksi dari Poco Leok dalam aksi penolakan proyek geothermal, Rabu (5/6).
Amarah penguasa yang meledak di hadapan rakyatnya sendiri kini memantik gelombang kritik luas. Warga pun tak ragu menyebutnya sebagai pemimpin yang "tidak beres".
Insiden bermula ketika massa adat Poco Leok menggelar demonstrasi di depan Kantor Bupati Manggarai, menyuarakan penolakan keras terhadap proyek geothermal yang mereka nilai mengancam ruang hidup, warisan budaya, dan tanah ulayat mereka.
Baca Juga: Tersulut Emosi, Bupati Heri Nabit Hadang Mobil Pengangkut Massa Aksi dari Poco Leok
Dalam aksi tersebut, salah satu orator menyampaikan orasi yang tajam dan emosional, menyebut Bupati Heri Nabit sebagai "sampahnya orang Poco Leok". Pernyataan tersebut memicu ledakan emosi sang bupati yang tiba-tiba keluar dari kantornya dan berlari dengan ekspresi penuh kemarahan ke arah massa, seolah-olah hendak mencari konfrontasi langsung.
Aparat keamanan yang mengawal jalannya aksi segera bertindak cepat, menahan sang bupati sebelum konflik fisik pecah.
Namun, amukan itu seolah belum cukup. Saat massa hendak pulang melalui jalur timur, Bupati Nabit diduga hadir bersama massa tandingan yang tiba-tiba memblokir jalan, hingga memaksa kendaraan pengangkut massa aksi dari Poco Leok harus berbalik arah.
Tak berhenti di situ, jalur barat pun kemudian diblokir kembali oleh Bupati Nabit dan kelompoknya, seolah ingin mengurung massa aksi tanpa jalan pulang.
Baca Juga: Raja Ampat Bukan untuk Ditambang! Tokoh Muda Manggarai Desak Pemerintah Cabut Izin Tambang
Massa sempat diancam, diteriaki, bahkan hampir dilempari batu oleh orang-orang yang diduga pendukung bupati. Beruntung, aparat kepolisian kembali bertindak cepat, mengevakuasi warga ke Kantor Polres Manggarai untuk menghindari eskalasi konflik yang lebih besar.
Yang mengejutkan, Bupati Heri Nabit dan kelompoknya justru mendatangi kantor Polres dan berusaha menerobos masuk. Polres menutup rapat gerbang demi menjaga keselamatan warga Poco Leok yang sudah dalam kondisi tampak diintimidasi oleh penguasa.
Ketegangan kian membara ketika Bupati Nabit enggan diajak berdialog secara tertutup dan justru menuntut agar para orator aksi dihadirkan untuk mempertanggungjawabkan ucapannya.
Warga pun menilai tindakan ini sebagai bentuk penguasa yang kehilangan kendali dan gagal menjunjung tinggi etika serta integritas sebagai pemimpin publik.
"Anda (Heri Nabit) harusnya tidak tersinggung dengan kebenaran. Yang tersinggung dengan kebenaran, orangnya tidak beres. Masa tersinggung dengan masyarakat sendiri," ujar Yudi Onggar, salah satu orator aksi dengan lantang.
Artikel Terkait
Tersulut Emosi, Bupati Heri Nabit Hadang Mobil Pengangkut Massa Aksi dari Poco Leok
Raja Ampat Bukan untuk Ditambang! Tokoh Muda Manggarai Desak Pemerintah Cabut Izin Tambang
Fransiscus Go Dukung Takuju Market Vol.2 untuk Dorong UMKM NTT Tembus Pasar Nasional dan Global
Gelombang ASN ke Jabatan Fungsional: Peluang atau Resiko?
KPK Periksa 6 Saksi Usut Dugaan Korupsi Proyek Peningkatan Jalan
Tuhan Tidak Pernah Pilih Anda Jadi Wakil-Nya!– Aktivis Manggarai Barat Semprot Bupati Kupang Soal Relokasi Warga Pulau Kera
Transformasi Kepemimpinan di Rutan Ruteng, Kolaborasi dan Inovasi untuk Kemajuan Bangsa