Idenusantara.com-Lazimnya anak-anak seusia mereka masih sibuk bermain atau belajar dengan penuh keceriaan, namun tidak dengan tiga bersaudara di kampung Purak Desa Ngampang Mas, Kecamatan Borong, kabupaten Manggarai Timur-NTT ini.Mereka justru harus berhadapan dengan kenyataan pahit.
Hari-hari disetiap pagi tiga saudara itu yakni Vains Inda (Fain), dan Valeria Jen (Jen), Yosefianus Daut Jeradu (Daut), berjalan menuju sekolah dasar tanpa sarapan, bahkan kadang hanya bermodal air putih untuk menahan lapar.
Masih belia dan di usia yang seharusnya masih penuh tawa, bermain bebas, butuh kasih sayang serta perhatian lebih dari kedua orang tuanya, namun mereka justru sudah belajar arti hidup sesungguhnya dengan lebih cepat.
Semenjak ditinggal ayah yang merantau tanpa kabar, dan diasuh ibu yang sakit jiwa. Hidup mereka kini bergantung pada tenaga kecil yang dipaksa bekerja demi sesuap nasi.
Pergi Sekolah dengan Perut Kosong
Ketiganya adalah murid kelas 3 SDN Purak. Namun semangat belajar sering kali terganjal oleh perut kosong.
“Kadang beberapa hari baru bisa makan nasi, selebihnya makan ubi. Kalau tidak ada beras, kami cuma minum air saja,” ucap Jen dengan wajah murung, pada Jumat (12/9/2025).
Fain menuturkan, ia dan kedua saudaranya harus berbagi tugas rumah tangga tangga. Dari memasak, mencuci, hingga mengurus sawah kecil peninggalan keluarga yang hasilnya hanya tiga karung padi setahun.
“Kalau tidak sekolah, kami kerja harian di kebun orang, upahnya Rp50 ribu. Uangnya untuk beli beras,” katanya.
Kakak Jadi Sandaran
Di rumah, ada kakak sulung mereka, Jefrianus Jeradu (Jefri), yang seharusnya bisa melanjutkan pendidikan setelah tamat SD. Namun karena keterbatasan ekonomi, ia harus berhenti sekolah dan kini menjadi sandaran utama bagi ketiga adiknya.
“Selama ini kami sama-sama kerja. Saya ikut angkut padi di kebun orang, adik-adik kadang bantu. Kalau ada hasil, bisa beli beras. Kalau tidak ada, kami makan ubi saja,” tutur Jefri.