Bupati Nabit Dorong Model Pariwisata Religi Berbasis Budaya Lokal Manggarai

photo author
Dionisius Upartus Agat, Ide Nusantara
- Kamis, 16 Oktober 2025 | 11:52 WIB
Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit saat menjadi pembicara dalam Konferensi Internasional bertajuk "Questioning Tourism: The Role of Catholicism in Asian Tourism" yang digelar di Universitas Katolik Indonesia (Unika) St. Paulus Ruteng.
Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit saat menjadi pembicara dalam Konferensi Internasional bertajuk "Questioning Tourism: The Role of Catholicism in Asian Tourism" yang digelar di Universitas Katolik Indonesia (Unika) St. Paulus Ruteng.

Ruteng, Idenusantara.com — Sektor pariwisata di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), didorong untuk bertransformasi.

Transformasi yang dimaksud dengan menggagas pariwisata sebagai medium refleksi, transformasi nilai kemanusiaan, dan penguatan spiritualitas yang berakar pada nilai-nilai Katolik dan budaya lokal.

Gagasan ini disampaikan Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit saat menjadi pembicara dalam Konferensi Internasional bertajuk "Questioning Tourism: The Role of Catholicism in Asian Tourism" yang digelar di Universitas Katolik Indonesia (Unika) St. Paulus Ruteng.

Dijelaskan Bupati Nabit, keunikan pariwisata Manggarai terletak pada perpaduan erat antara iman Katolik dan warisan budaya lokal.

Dengan sekitar 95% dari 329 ribu penduduknya beragama Katolik, Manggarai memiliki fondasi etika dan nilai religius yang kuat untuk dijadikan daya tarik otentik.

"Pariwisata seharusnya menjadi sarana untuk mempertemukan manusia, memperkaya spiritualitas, dan memperkuat solidaritas sosial," ujar Bupati Nabit saat dikonfirmasi media ini, Kamis (16/10/2025).

Prinsip Tourism for People, Not Just for Profit

Bupati Nabit juga menyoroti perlunya pendekatan partisipatif dan berkelanjutan sebagai kunci pengembangan sektor pariwisata.

Model pembangunan yang diusungnya mengutamakan keterlibatan penuh masyarakat lokal di setiap tahap.

"Dalam konteks masyarakat Manggarai yang mayoritas Katolik, nilai-nilai iman harus menjadi dasar dalam mengembangkan destinasi wisata yang beretika dan berkeadilan," tambahnya.

Pendekatan ini merupakan wujud nyata dari prinsip tourism for people, not just for profit—pariwisata untuk kesejahteraan masyarakat, bukan semata-mata untuk keuntungan.

Keterlibatan masyarakat tidak hanya memastikan keberlanjutan, tetapi juga menjamin bahwa manfaat ekonomi dan sosial dari pariwisata dinikmati secara adil oleh komunitas setempat.

Integrasi iman Katolik dan kearifan budaya ini, menurut Bupati Nabit, menjadi kekuatan diferensiasi utama yang membedakan Manggarai dari destinasi wisata lain.

Lanskap alam yang indah hanyalah sebagian, namun karakteristik unik yang terbentuk dari spiritualitas dan budaya adalah nilai jual tak ternilai dalam pemasaran pariwisata berbasis nilai-nilai religius dan budaya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dionisius Upartus Agat

Rekomendasi

Terkini

X