Idenusantara.com-Jurnalis asal Kabupaten Nagekeo, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sevrin Waja, kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Melalui karya bertajuk “Mendorong Migrasi Aman Pejuang Devisa”.Dari tulisannya itu Ia berhasil masuk tiga besar dalam Kompetisi Jurnalistik Akselerasi SDGs yang digelar Bappenas bersama Kompas Gramedia.
Sevrin menuliskan tentang persoalan krusial seputar Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kerap disebut sebagai pahlawan devisa, namun sering kurang mendapat perhatian serius. Dengan pendekatan feature dan investigasi mendalam, Ia mengulas rantai persoalan migrasi tenaga kerja secara menyeluruh mulai dari proses rekrutmen, aspek perlindungan hukum, risiko di negara tujuan, hingga dampak sosial-ekonomi bagi keluarga di daerah asal.
Sevrin mengaku telah menerima undangan resmi dari panitia Kompas Group Media untuk menghadiri malam puncak penghargaan di Menara Kompas, Jakarta.Kompetisi yang berlangsung sejak Desember 2025 itu diikuti ratusan jurnalis dari berbagai daerah dan platform media, baik lokal, nasional, maupun internasional.
Dari seluruh karya yang masuk, dipilih 10 finalis terbaik yang kemudian diminta menulis dua karya lanjutan sebelum disaring menjadi tiga besar, dan akhirnya satu pemenang utama yang akan mempresentasikan karyanya dalam forum SDGs Academy.
Sejumlah media arus utama turut masuk nominasi 10 besar, di antaranya Kompas, Viva, Tribunnews, Media Indonesia, CNBC Indonesia, Jawa Pos, IDN Times, serta Bloomberg Technoz.
Sebelumnya, mantan aktivis GMNI ini lolos 10 besar nasional melalui tulisan bertema kesetaraan gender yang menyoroti kiprah kelompok ibu rumah tangga di Desa Wolowea, Kecamatan Boawae, dalam mendukung capaian SDGs di tingkat desa.
Pada karya terbarunya, jurnalis Viva.co.id ini menyoroti realitas pekerja migran asal NTT. Ia membedah praktik rekrutmen yang kerap tidak transparan, lemahnya perlindungan hukum, tingginya risiko eksploitasi dan kekerasan, hingga kerentanan terhadap tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Padahal, dari sisi ekonomi, pekerja migran merupakan penyumbang devisa terbesar kedua bagi Indonesia. Laporannya turut menghadirkan kesaksian korban TPPO, dampak sosial bagi keluarga yang ditinggalkan, serta beban ekonomi yang tak jarang tidak sebanding dengan harapan kesejahteraan.
Baca Juga: PMKRI Cabang Maumere Ingatkan Gubernur Jawa Barat untuk Hormati Proses Hukum di Sikka
Namun, Sevrin juga menampilkan kisah sukses pekerja migran yang berangkat melalui jalur resmi dan prosedural. Ia menegaskan bahwa migrasi yang aman dan terkelola dapat menjadi jalan peningkatan ekonomi keluarga tanpa mengorbankan keselamatan.
Dalam karyanya, Sevrin menekankan pentingnya peran negara dan pemerintah daerah dalam memberikan edukasi, menjamin transparansi informasi, serta memperketat pengawasan proses perekrutan tenaga kerja migran. Baginya, migrasi aman bukan sekadar urusan administrasi, melainkan soal perlindungan martabat, keselamatan, dan keadilan sosial bagi warga negara.
Prestasi yang diraihnya ini bukan yang pertama. sebelumnya Sevrin juga pernah menembus delapan besar nasional dalam lomba karya jurnalistik yang digelar Komnas Perempuan dengan tema ruang aman bagi korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.