Kisah Pilu Martina, Ibu Rumah Tangga Yang Gigih Menghidupi Keluarga Setelah Suami Terkena Stroke

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Selasa, 3 Maret 2026 | 20:35 WIB
Mama Martina dan Herman suaminya di kediaman mereka (Foto:Jhii Serlenso-Idenusantara.com)
Mama Martina dan Herman suaminya di kediaman mereka (Foto:Jhii Serlenso-Idenusantara.com)

Idenusantara.com-Situasi di mana seorang istri harus menafkahi suami yang sakit stroke sekaligus merawat cucu-cucunya adalah beban ekonomi dan fisik yang sangat berat.Kisah pilu yang mengharukan itu datang dari ibu Martina Iman. seorang ibu rumah tangga yang tangguh berusaia 56 tahun asal Kampung Wae Solong, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, yang harus menelan pahitnya hidup ini.

Meskipun tenaganya mulai pudar dan tubuhnya tak lagi tegak, ia tetap tegar berjuang keras untuk menghidupi keluarganya sejak suaminya jatuh sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Sebagai petani tulen ibu Martina hanya mengadalkan tubunya yang tegar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Baca Juga: Akselerasi Pembangunan NTT, Gubernur NTT Bentuk 5 Tim Kerja Percepatan Pembangunan Daerah

Namun, perjuangan Ibu Martina kini semakin berat disebabakan faktor usia yang kian sudah senja dan tubuh tak tegar seperti dulu lagi.
Keadaan inilah yang membuat ia mau tidak mau harus menggambil peran menggantikan suaminya berkerja keras untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam mempertahankan keberlangsungan hidup keluarga dan cucu-cucu mereka, meskipun raga tak mampu lagi untuk berkerja.

Ibu Martina dan ketiga cucunya
Ibu Martina dan ketiga cucunya

Rumah kediaman mama Martina
Rumah kediaman mama Martina

Dalam kunjungan Media ini di tempat tinggal Ibu Martina di Kampung Wae Solong, desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, pada Senin, 2 Maret 2026, terlihat kondisi rumah sangat sederhana berukuran kecil 7x8 meter, berdinding papan yang mulai rapuh dan bawahan stengah tembok dengan batu batanya terlihat retak termakan usia dengan atapnya berlubang dan bocor juga lantai seadanya serta dapur kecil berdinding bambu yang mulai termakan enai dan WC yang terlihat sangat sederhana.

Baca Juga: Gubernur Melki Tegaskan Peran Strategis Forum PLKP Dalam Pembangunan SDM NTT

Sementara, Herman Ngaa yang berusia 58 Tahun yang terkena stroke suami dari ibu Martina tersebut sedang berbaring tak berdaya sejak tiga tahun lalu berjuang melawan penyakitnya di tempat tidurnya yang serba sederhana.

"Sedih kalau hujan basah, karna bocor sengnya yang berlubang," terang Martina.

Ironisnya, kondisi rumah seperti gubuk sederhana milik keluarga yang tak berdaya itu, terpantau sejauh ini belum mendapatkan uluran tangan kasih dari pemerintah seperti bantuan rumah layak huni, pemberdayaan ekonomi, dan bantuan-bantuan lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah, sebagai penyalur bantuan belum mampu membuka mata hati untuk melihat masyarakatnya yang benar-benar membutuhkan uluran tangan kasih mereka seperti keluarga ibu Martina.

Kepada Media ini Martina memohon, pemerintah sekiranya lebih peka dan jeli dalam menyalurkan berbagai macam bantuan agar hal itu tepat sasaran.

Keadaan inilah yang membuat Martina mau tidak mau harus menggambil peran menggantikan suaminya berkerja keras untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam mempertahankan keberlangsungan hidup keluarga dan cucu mereka, meskipun tak mampu lagi untuk berkerja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

X