daerah

Puluhan Ekor Babi Mati di Elar-Manggarai Timur, Pemda Matim di Minta Segera Tanggapi

Sabtu, 22 Februari 2025 | 07:30 WIB
Ternak babi milik seorang warga Desa Rana Gapang yang mati (Foto: Ejhi Serlenso)

 

 

Idenusantara.com-Puluhan ternak babi milik warga beberapa desa di wilayah kecamatan Elar, kabupaten Manggarai Timur, di antaranya Desa Rana Gapang dan Desa Lengko Namut dan sebagian di beberapa desa lainnya mati massal. Kematian massal babi itu belum dipastikan penyebabnya.

Namun warga setempat menduga kematian masal babi tersebut akibat demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF), karena gejalanya mirip dengan kejadian tahun lalu.

Baca Juga: Komitmen Melki-Johni Setelah Pelantikan; Siap Jadi Pelayan dan Kerja Maksimal untuk Masyarakat NTT

Kepala Desa Rana Gapang, Melikior Wene, saat di dihubungi kepada media ini mengatakan bahwa warga di desanya mengalami kerugian akibat babi peliharaan mereka mati begitu saja,.Bayangkan jika seekor babi berbobot lebih dari 1 kuintal biasanya bisa dijual seharga Rp 5 juta hingga Rp 7 juta per ekornya, tentu kalau babinya mati begitu saja akan merugikan pemiliknya . Keadaan sekarang di desanya ada lebih dari 10 ekor yang mati.

"Di sini hampir semua warga punya babi. Kalau 20 ekor saja mati, kerugiannya bisa mencapai Rp 140 juta.Sekarang di desanya sudah lebih dari 10 Ekor babi yang mati," kata Melikior pada Sabtu (22/2/2025).

Melikior Wene, Kepala Desa Rana Gapang (Foto: Docpri. Melikior)

Menurutnya jumlah babi yang mati terus bertambah. Warga semakin resah dan berharap pemerintah segera atasi sesegera mungkin persoalan ini dengan menemukan obat agar babi yang masih sehat bisa diselamatkan.

"Mereka butuh solusi segera, minimal ada obatnya. Kalau dibiarkan, peternak di sini bisa trauma.Kami berharap pada pemerintah agar sesegera mungkin persoalan ini diatasi," tambahnya.

Baca Juga: Presiden Prabowo ke Johni Asadoma: Saya Titip Kampung Halaman Saya NTT


Melikior mengaku 2 ekor babi miliknya juga termasuk yang mati. Dua ekor babi itu berbobot 1,5 kuintal.

"2 ekor babi milik saya pun ikut mati.Gejalanya sejak tiga hari lalu tidak mau makan, tidak mau minum, lalu dua hari tidak bangun, lalu kemudian mati dengan sendirinya" katanya.

Kematian massal babi di sebagian wilayah desa di kecamatan Elar dimulai sejak awal Februari 2025. Kematian terus terjadi dan semakin hari semakin banyak. Jika tidak segera ada penanganan maka kemungkinan jumlah babi mati bisa mencapai puluhan ekor bahkan ratusan ekor.

"Kematian babi semakin hari semakin terus bertambah jumlahnya jika tak segera ditangani.Kemungkinan sudah positif ASF, karna gejalanya mirip dengan gejala tahun lalu" ungkap Melkior Wene, Kepala Desa Rana Gapang saat di wawancarai Media ini.

Halaman:

Tags

Terkini