Ia juga menyoroti pentingnya menggali kembali nilai-nilai tradisional Manggarai seperti ngari (kerja sama), tebeng ate (menghormati sesama), dan danding one (persatuan), yang sejalan dengan semangat Pancasila.
Kritik Keras terhadap Seremonialisme: “Kita Terlalu Sibuk Upacara, Lupa Esensi”
Tak hanya menyerukan aksi, Heri juga melontarkan kritik tajam terhadap kecenderungan peringatan Hari Lahir Pancasila yang terlalu fokus pada aspek seremonial.
“Kita sering lupa. Peringatan 1 Juni kadang hanya jadi rutinitas tahunan. Kita gelar upacara, pakai baju adat, bacakan teks, lalu selesai. Tapi setelah itu, apakah kita benar-benar hidup dalam semangat Pancasila? Itu pertanyaan pentingnya,” ujar Heri dengan nada serius.
Menurutnya, saatnya pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan semua elemen bangsa berhenti menjadikan Pancasila sekadar formalitas, dan mulai menjadikannya sebagai dasar pertimbangan dalam setiap kebijakan dan tindakan sosial.
Pancasila Adalah Arah, Bukan Hiasan
Menutup pernyataannya, Heri kembali menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak akan ditentukan oleh teknologi atau kekayaan alam semata, tetapi oleh apakah nilai-nilai dasar bangsa ini masih dijaga dan diperjuangkan oleh rakyatnya.
“Kalau kita ingin Indonesia tetap utuh 100 tahun ke depan, maka kita harus pastikan bahwa Pancasila bukan hanya di dinding kelas atau pidato pejabat. Ia harus hidup di hati, di tindakan, di kebijakan, dan di ruang publik. Karena tanpa Pancasila, bangsa ini akan rapuh,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Yayasan Pesona Manggarai Raya (Yasonar) adalah lembaga nirlaba yang aktif dalam pendidikan karakter, pelestarian budaya lokal, dan pemberdayaan sosial di wilayah Nusa Tenggara Timur. Didirikan oleh para pegiat muda Manggarai, Yasonar berkomitmen menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi utama dalam seluruh kegiatan sosial dan komunitas yang dijalankannya.***