Situasi menjadi tegang. Massa kebingungan, sopir kendaraan tak berani melaju, dan tampak beberapa warga mulai panik.
Tak ingin bentrok meledak, aparat dari Polres Manggarai segera bertindak cepat. Polisi mengambil alih situasi dan menggiring seluruh rombongan massa menuju kantor Polres untuk pengamanan.
Bupati Desak Polisi Hadirkan Orator, Polisi Menolak
Namun drama belum usai. Di depan gerbang Kantor Polres, Bupati Heri Nabit kembali menunggu. Kali ini, ia menekan pihak kepolisian agar menghadirkan orator aksi ke hadapannya. “Biar dia bertanggung jawab! Suruh dia keluar!” teriaknya menurut kesaksian beberapa warga di lokasi.
Namun, Polres Manggarai menolak permintaan itu. Dalam pernyataannya, polisi menyebut langkah tersebut demi mencegah bentrokan horizontal yang lebih besar dan menjaga keselamatan semua pihak, termasuk sang Bupati sendiri.
Baca Juga: Edi Rihi Dukung Geothermal, Warga Poco Leok: Pragmatis dan Tidak Berkualitas Sebagai Anggota Dewan
Sekitar pukul 17.00 WITA, ketegangan berhasil diredakan melalui mediasi tertutup antara aparat, perwakilan warga, dan pemerintah. Massa akhirnya diizinkan kembali ke Poco Leok dengan pengawalan ketat.
Poco Leok Melawan: “Kami Tidak Takut!”
Aksi ini merupakan lanjutan dari perlawanan panjang masyarakat adat Poco Leok terhadap proyek geothermal yang dinilai penuh manipulasi, intimidasi, dan minim partisipasi publik.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan oleh Atri, perwakilan warga, massa menyebutkan bahwa proyek ini mengancam tanah ulayat mereka sebagai ruang hidup sakral yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur.
“Kami tidak akan menyerahkan mbaru bate kaeng, natas bate labar, atau compang bate takung kami untuk proyek yang kami tidak pernah setujui. Kami tidak takut. Kami akan lawan!,” tegas Atri.
Warga juga mengungkapkan berbagai praktik yang mereka nilai tidak etis dalam pelaksanaan proyek, seperti survei paksa, sosialisasi tertutup, serta pendekatan diam-diam yang dilakukan tanpa transparansi. Bahkan, aparat keamanan dinilai digunakan sebagai alat tekanan psikologis terhadap masyarakat.
Bupati Dianggap Pengkhianat Tanah Leluhur
Nama Bupati Heri Nabit kini tercoreng di mata sebagian warga Poco Leok. Mereka menilai sang Bupati telah mengkhianati janji kampanyenya, dan lebih parah lagi, mengkhianati adat dan akar budayanya sendiri.
Sosok yang dulu dielu-elukan sebagai pemimpin dari rakyat kecil, kini dianggap berubah menjadi alat kekuasaan yang membungkam suara rakyat.