daerah

Bupati Nabit Mengamuk Usai Didemo Warga Poco Leok, Polres Manggarai Jadi Pahlawan dan Selamatkan Masa Aksi

Sabtu, 7 Juni 2025 | 15:56 WIB
Seorang ibu asal Poco Leok sedang berorasi di depan Kantor Bupati Manggarai pada Rabu (05/06) menuntut Bupati Heri Nabit untuk mencabut SK Penetapan Lokasi geothermal di Wilayah Poco Leok.

 

Idenusantara.com - Ketika rakyat bersuara, penguasa murka. Itulah yang terjadi di halaman Kantor Bupati Manggarai pada Rabu (5/6), saat ratusan warga adat Poco Leok turun ke jalan menolak proyek geothermal yang mengancam tanah dan hidup mereka.

Aksi yang dimulai dengan damai, berubah menjadi mencekam ketika sang bupati, Heribertus Geradus Laju Nabit, mendadak keluar dari ruangannya dengan amarah membara, nyaris bentrok langsung dengan rakyatnya sendiri.

Namun dalam kekacauan itu, sebuah sinar keberpihakan muncul. Polres Manggarai tampil sebagai benteng terakhir yang melindungi warga dari kekuasaan yang meledak tak terkendali. Di tengah panasnya amarah pejabat nomor satu di kabupaten itu, polisi memilih berdiri bersama rakyat dan keputusan itu menuai pujian luas dari berbagai kalangan.

Teriakan Rakyat yang Membuat Kekuasaan Gagal Mengontrol Diri

Aksi damai yang diikuti oleh ratusan warga dari sepuluh gendang adat Poco Leok sejak pagi berlangsung tertib. Massa menyuarakan penolakan total terhadap proyek geothermal yang dinilai mengancam ruang hidup, warisan leluhur, dan kedaulatan adat mereka.

Baca Juga: Waspada! Pedagang Rokok Ilegal Terancam Pidana

Namun tensi mulai meningkat ketika seorang orator yang tak diketahui identitasnya berteriak lantang.

“Kantor Bupati Manggarai bukan lagi tempat rakyat mencari keadilan. Ini sampah bagi orang Poco Leok!,” ujar salah satu orator yang tidak diketahui identitasnya.

Kalimat yang dilontarkan oleh orator yang mencerminkan kemarahan dan frustasi warga Poco Leok terhadap pemimpin yang mereka anggap mengkhianati janji-janjinya, membuat Bupati Nabit tersulut. 

Tak lama setelah itu, sang bupati keluar dari ruangannya dengan wajah merah padam dan langsung berlari ke arah massa.

Polres Manggarai Berdiri Tegak di Tengah Kekacauan

Ketika situasi hampir tak terkendali, aparat Polres Manggarai yang sejak awal mengawal aksi langsung bertindak. Dengan sigap, mereka menghadang Bupati dan mencegahnya mendekati massa. Kerumunan mulai bergeser. Suara-suara mulai meninggi. Tapi Polres Manggarai tidak gentar. Mereka membentuk barikade, bukan untuk membubarkan aksi, tapi untuk melindungi rakyat dari penguasa mereka sendiri.

Baca Juga: Cetak Sejarah Baru di Desa Rana Gapang, Paud Harapan Bangsa Gelar Wisuda Angkatan Pertama

Sikap ini membuat banyak pihak terkejut. Polisi yang sering kali dicap represif dalam unjuk rasa, justru menjadi pahlawan. Bukan tanpa risiko. Keputusan mereka menahan keinginan Bupati bisa saja berujung teguran politik. Namun mereka memilih berpihak kepada prinsip dan rasa keadilan.

Halaman:

Tags

Terkini