Bupati Nabit: Dari Harapan Menjadi Ancaman?
Sosok Bupati Heribertus Nabit pernah dielu-elukan sebagai pemimpin progresif dan dekat dengan rakyat. Namun hari ini, rakyat sendiri yang mempertanyakan siapa yang ia wakili.
“Kami dulu pilih dia karena kami pikir dia akan jaga tanah ini. Sekarang dia malah berdiri bersama proyek yang mengusir kami dari kampung kami sendiri,” ujar seorang orator yang mengaku tetua adat di salah satu gendang yang ada di wilayah Poco Leok.
Kemarahan Bupati hari itu menjadi simbol keretakan antara penguasa dan rakyat. Aksi ini menyisakan luka, tapi juga menampilkan harapan bahwa masih ada aparat negara yang memilih berdiri bersama rakyat, bukan melawan mereka.
Rakyat Belum Kalah, Perjuangan Belum Selesai
Aksi 5 Juni bukanlah akhir. Bagi warga Poco Leok, ini hanya salah satu bab dalam perjuangan yang panjang dalam menjaga tanah dan warisan leluhur. Mereka telah membuktikan bahwa suara rakyat tidak mudah untuk dibungkam, meski kekuasaan berusaha membungkamnya dengan kemarahan. Dan ketika penguasa gagal mengontrol diri, Polres Manggarai hadir sebagai pengayom sejati.