Ia sempat mencoba menghubungi ayahnya yang merantau di Kalimantan. Namun nomor telepon tak pernah aktif.
“Bapak hanya sekali kirim uang lewat istri teman kerja, Rp500 ribu untuk lima bulan. Setelah itu, tidak ada lagi kabar. Kadang istri teman kerjanya hanya antar beras atau minyak goreng,” jelasnya.
Hidup Dalam Ketidakpastian
Meski masih anak-anak, Daut, Fain, dan Jen sudah terbiasa mengurus rumah sendiri. Mereka membagi tugas: siapa yang memasak, siapa yang mencuci, siapa yang pergi ke kebun.
Ibunya, Elvita Dadas, hanya sesekali membantu, namun karena sakit jiwa, ia tak bisa sepenuhnya diandalkan.
“Kami punya sawah sendiri. Tahun ini kami kerjakan berempat, hasilnya cuma tiga karung. Kalau tidak cukup, kami kerja harian di kebun orang. Uangnya untuk beli beras,” ungkap Fain.
Jen menambahkan, sering kali mereka pergi sekolah tanpa sarapan.
“Kalau lapar, kami tahan sampai pulang. Kadang makan ubi, kalau tidak ada, kami minum air saja,” ujarnya lirih.
Guru Ikut Prihatin
Kisah yang memilukan ini juga sampai ke telinga guru mereka. Wali kelas, Yusfi Lavianus Sau, mengaku sangat prihatin melihat kondisi tiga muridnya itu.
“Saya tahu dari wajah mereka apakah sudah makan atau belum. Kadang saya panggil ke ruang guru, kasih makan dan minum. Kami sedih sekali melihat mereka,” kata Yusfi.
Menurutnya, absensi Daut, Fain, dan Jen kerap dipengaruhi kondisi ekonomi keluarga.
“Kalau mereka tidak hadir, biasanya karena kerja harian di kebun orang. Kalau tidak kerja, mereka tidak bisa makan,” tambahnya.