Nada kritik yang lebih keras datang dari akun Yusuf Turatea. Ia menyebut pemblokiran jalan sebagai tindakan yang tidak tepat dalam menyampaikan aspirasi pemekaran daerah.
“Kalau mau pisah dibicarakan baik-baik, bukan dengan cara memblokade jalan poros. Itu tindakan orang frustasi, kasi susah orang lain,” tulisnya.
Sementara itu, komentar bernada satire juga muncul dalam perdebatan tersebut. Akun Ardii S menulis,
“Untung saya bukan gubernur, mungkin kalau gubernur saya akan putar musik disco keras-keras sambil minum kopi ditemani pizza.”
Hingga saat ini, tuntutan pemekaran Luwu Raya dan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Luwu Tengah masih menjadi perdebatan publik. Pemerintah pusat sendiri belum mengambil keputusan apakah tuntutan tersebut akan diterima atau tidak.
Situasi ini menunjukkan bahwa isu pemekaran Luwu Raya tidak hanya menimbulkan dampak di lapangan, tetapi juga memicu polarisasi opini di ruang digital, antara dukungan, kritik terhadap metode perjuangan, hingga sorotan terhadap simbol kepemimpinan daerah.