daerah

"Kami Tak Butuh Makan Gratis!": Paradoks Deforestasi Papua dan Kerinduan akan Pendidikan

Sabtu, 28 Februari 2026 | 08:06 WIB
Viral Perempuan Papua Tolak MBG (Foto:Source LM)

Idenusantara.com-Sebuah suara dari ufuk timur Indonesia kembali menyentak kesadaran publik. Dalam sebuah tayangan video, seorang perempuan Papua dengan tegas menyatakan bahwa masyarakatnya tidak membutuhkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sambil menunjukkan hasil kebun berupa umbi-umbian berukuran besar, ia menyampaikan pesan yang menohok: alam Papua sudah menyediakan makanan secara cuma-cuma. Yang justru mendesak dan mereka butuhkan adalah akses pendidikan gratis agar anak-anak Papua mampu bersaing.

Baca Juga: Gubernur Melki Tegaskan Peran Strategis Forum PLKP Dalam Pembangunan SDM NTT

​Pernyataan ini mencuat dan memicu tanda tanya besar di tengah ramainya sorotan publik terhadap masifnya pembabatan hutan di Bumi Cenderawasih. Timbul kecurigaan, apakah hutan Papua sengaja dibabat habis demi mengamankan pasokan pangan untuk program raksasa seperti MBG?

​Penelusuran fakta di lapangan menunjukkan bahwa deforestasi di Papua saat ini didorong oleh dua motor utama. Pertama, ekspansi perkebunan kelapa sawit oleh korporasi yang kerap berbenturan dengan hak hidup masyarakat adat, seperti yang terjadi pada Suku Awyu dan Suku Moi. Kedua, ambisi pemerintah membuka jutaan hektare lahan untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate di Merauke, yang difokuskan pada percetakan sawah baru dan perkebunan tebu berskala industri.

Baca Juga: Akselerasi Pembangunan NTT, Gubernur NTT Bentuk 5 Tim Kerja Percepatan Pembangunan Daerah

​Meski lahan tersebut tidak dibuka dengan label khusus "untuk menyuplai MBG", terdapat benang merah yang tak bisa diabaikan. Proyek Food Estate digarap di bawah payung besar "Ketahanan Pangan Nasional". Hasil panen dari lumbung pangan raksasa inilah yang nantinya diproyeksikan menjadi tulang punggung rantai pasok berbagai program pemerintah, tak terkecuali program makan gratis.

​Di sinilah letak ironi yang menyayat hati. Demi mengamankan ketahanan pangan nasional secara makro, hutan yang selama ini menjadi lumbung pangan alami masyarakat adat justru dikorbankan. Negara sibuk memikirkan cara memberi makan rakyatnya, namun di saat yang sama, ruang hidup yang memberikan makanan gratis bagi masyarakat Papua terancam hilang.

​Pada akhirnya, suara perempuan dalam video tersebut adalah teguran keras. Masyarakat pedalaman Papua telah membuktikan bahwa mereka bisa mandiri dan bertahan hidup dari alam. Mereka tidak meminta disuapi, mereka hanya meminta negara hadir memberikan pendidikan yang layak, agar mereka tidak terus-menerus kalah bersaing di tanah mereka sendiri.

Tags

Terkini