daerah

Kopi Buk: SDI Congkar Buktikan P5 Bisa Rasa Kopi, 7 Kg Ludes Sehari di Expo Pendidikan V Matim

Selasa, 5 Mei 2026 | 06:32 WIB
Hendrikus, Kepala Sekolah SD Congkar foto bersama pembeli Kopi Buk Congkar

 

Idenusantara.com-Aroma kopi tumbuk manual menyeruak dari stand MKKS Congkar di Expo Pendidikan V Manggarai Timur 2026. Bukan dari barista profesional, tapi dari tangan-tangan kecil siswa SDI Congkar yang menumbuk biji kopi dengan lesung kayu.

Selama empat hari, 28 April–1 Mei 2026 di Lapangan Fernandes Borong, terbukti “Kopi Buk SDI Congkar” jadi primadona 84 stand yang terdiri dari 24 sekolah penggerak, 46 angkatan guru penggerak, dan 14 UMKM.

“Kami promosikan Kopi Congkar, biar semua masyarakat tahu bahwa kami salah satu daerah penghasil kopi di Manggarai Timur,” kata seorang murid kelas V SDI Congkar kepada media ini, pada Jumat (30/5/2026).

Baca Juga: Pengabdian Tulus Di Pelosok: Aipda Lalu Sukiman Jadi Malekat Penolong di Kampung Sunyi Manggarai Timur

Kopi Buk Congkar yang diminati Pengunjung di Expo Pendidikan Matim

Berawal dari Ironi: Pemilik Kopi Beli Kopi Kemasan

Di balik stand yang selalu ramai itu, ada kegelisahan Kepala SDI Congkar, Hendrikus Nggiring,S.Pd.,Gr. Saat diwawancarai, pada Senin (4/5/2026),kepada media ini ia mengungkap alasan sekolah di Kecamatan Congkar itu “nyemplung” ke dunia kopi.

“Ini inisiatif saya sebagai kepala sekolah. Saya bahas bersama guru-guru karena kami sadar, Congkar juga adalah salah satu daerah penghasil kopi terbanyak di Matim. Hasil panen dijual habis, tapi untuk konsumsi pribadi warga malah beli kopi kemasan dari luar yang harganya tinggi,”ungkapnya.

“Atas dasar itu saya inisiasi, kenapa kita pemilik kopi namun harus beli kopi kemasan dari luar?”

Baca Juga: Kisah Pilu Yustina Guru Honorer di Sikka: 11 Tahun Mengabdi, Bertaruh Nyawa dengan Gaji Rp150 Ribu

Kebun Sekolah Jadi Laboratorium P5 Kewirausahaan

SDI Congkar kebetulan punya lahan yang sudah ditanami kopi oleh siswa dan guru.

“Sudah ada hasil walaupun sedikit, sehingga kami sepakat memilih kopi sebagai program kewirausahaan sekolah. Tujuannya melatih siswa berwirausaha sejak dini, jangan menunggu usia dewasa,” jelas Hendrikus.

 

Halaman:

Tags

Terkini