Idenusantara.com-Dalam diam, perjuangan Aipda Sukiman telah menjadi api kecil yang menyala di kampung sunyi. Bahwa meski fasilitas terbatas dan jalan terjal, ketulusan bisa menemukan jalannya sendiri.
Di balik seragam Aipda Lalu Sukiman, tersembunyi kisah cinta pada tugas. Tak sekadar menjalankan perintah, tapi menghayati kemanusiaan.Inilah potret Polisi Humanis yang sejati. Seorang berseragam datang ke pelosok-pelosok, tidak untuk menangkap, tidak untuk menghakimi, tapi datang membawa kepedulian.Ia dekat dengan kaum rentan serta selalu peduli kasih dan berbagi dari dompet bahkan gajinya sendiri.
Baca Juga: Wakil Ketua DPR RI Minta Polri Tuntaskan Kasus Perampokan Pekanbaru Sampai Semua Pelaku Dihukum
Kaki yang Menapaki Pelosok Manggarai Timur: Presisi versi Elar
Matahari baru saja merayap naik, di balik bukit, tanah Elar, Kecamatan Elar, Manggarai Timur. Aipda Sukiman, Kapospol Elar yang juga Bhabinkamtibmas Desa Biting, memeriksa tas ranselnya: buku catatan, alat komunikasi, selebaran informasi, dan kotak P3K darurat.
Tak ada kendaraan dinas atau kendaraan pribadi. Yang ada, hanyalah kaki yang siap melangkah, menembus jalan tanah, menyeberangi sungai kecil, menapaki lereng-lereng curam yang tak pernah disentuh aspal.
Warga hanya mengenalnya dari cerita: tentang polisi yang rela jalan kaki berjam-jam untuk menjenguk anak sakit, berbagi kasih, mendamaikan warga yang berselisih, atau hanya sekadar menyapa dan mendengarkan keluh kesah petani jagung dan peternak babi.
Inilah Presisi versi Elar: Bukan soal teknologi canggih. Tetapi jeli membaca, cepat tanggap atau respons cepat terhadap persoalan sosial serta kreatif menghidupkan harapan di wilayah miskin yang nyaris dilupakan negara.
Mendengar Tangisan di Balik Bukit: Atresia Ani di Desa Legur Lai
Masih dari wilayah pelosok Manggarai Timur. Kondisi jalan berbatu, jauh dari sorotan media. Seorang polisi berseragam dinas, melintasi jalan sunyi, untuk satu tujuan: menemani pergulatan hidup manusia putus asa, yang nyaris tak terdengar.
Setelah langkahnya menyentuh pintu rumah Petrus di Kampung Mbawar, Aipda Lalu Sukiman, kembali menghidupkan mesin motornya. Kali ini, ia menempuh arah berbeda, menuju Desa Legur Lai, tempat tinggal keluarga Arnoldus Golo dan Natalia Suryati Dewi.
Di sana, bukan remaja seperti Petrus yang ia temui, tapi seorang balita mungil bernama Stevano Yota, yang tubuhnya diselimuti penderitaan lebih berat dari usianya.