"Padahal kita start-nya sama. We are going nowhere. Kita terjebak di middle-income trap. Karena apa, tata kelola kita itu. Harusnya, kita bisa menjadi clean governance untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, peningkatan GDP," ujarnya.
Termasuk juga, lanjutnya, Presiden Prabowo harus bisa menempatkan menteri yang kompeten untuk mendukung rencana pertumbuhan ekonomi 8 persen. Ia menegaskan platform yang diusung Presiden Prabowo sudah sangat luar biasa. Tapi tanpa aspek pendukung yang kompeten, platform itu hanya menjadi mimpi belaka.
"Saat ini, seperti kita lihat, memang ada menteri-menteri yang kompeten tapi ada juga yang menteri-menteri yang orientasi platform-nya belum sejalan dengan yang dicanangkan oleh Prabowo. Ditambah juga, regulasi yang ada saat ini, ada yang tidak compatible. Saya katakan ini sulit," ujarnya lagi.
Ia menegaskan PR dari Presiden Prabowo Subianto ini sangat berat, karena harus melakukan perubahan paradigma. Karena itu, ia berpesan pada Presiden Prabowo untuk terus konsisten dan transformasional dalam melakukan pembenahan tata kelola dan orientasi negara.
"Risikonya besar, itu pasti. Karena yang dilawan, kelompok yang tidak ingin adanya perubahan paradigma ini, sangat besar dan sudah merasuk kemana-mana. Tapi ingat, presiden ini adalah penerima mandat rakyat. Reformasi ini harus dilakukan, untuk memastikan kebijakan presiden yang baik, yang bertujuan untuk menyejahterakan rakyat bisa didukung," pungkasnya.***
Sumber: Liputan 6