IDENUSANTARA.COM - Deretan tenda berdiri rapi di hamparan tanah yang dulunya merupakan bagian dari permukiman warga. Di sanalah, masyarakat dari sejumlah kampung terdampak bencana di Kecamatan Linge membangun kehidupan baru. Camp pengungsian di Desa Delung Sekinel kini menjelma menjadi "kampung baru" bagi para korban banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah itu akhir November 2025 lalu.
Bencana yang datang tiba-tiba tersebut memporak-porandakan rumah, kebun, serta infrastruktur desa. Sejumlah kampung terdampak mengalami kerusakan parah, bahkan ada yang nyaris hilang tertimbun material longsor. Warga yang selamat terpaksa mengungsi dan memulai hidup dari nol di lokasi camp yang didirikan secara darurat.
Baca Juga: Warga Terdampak Banjir di Jember Geram: Pengembang Hanya Janji, Nyata di Lapangan Tak Ada!
Kini, aktivitas harian warga terpusat di kawasan pengungsian itu. Tenda-tenda tidak hanya berfungsi sebagai tempat beristirahat, tetapi juga menjadi ruang berkumpul keluarga, tempat anak-anak bermain, dan lokasi diskusi warga merancang masa depan. Di sudut lain, dapur umum beroperasi setiap hari, dikelola secara gotong royong oleh para ibu untuk memastikan kebutuhan makan ratusan pengungsi tetap terpenuhi.
Anak-anak yang terdampak bencana pun tetap berusaha melanjutkan pendidikan. Sebuah tenda sekolah darurat didirikan agar proses belajar mengajar tidak terhenti. Meski dengan fasilitas terbatas, semangat belajar tetap terlihat dari wajah-wajah polos yang memenuhi ruang kelas sederhana tersebut.
Selain itu, warga juga membangun masjid darurat sebagai pusat ibadah dan penguatan mental. Di tengah situasi sulit, tempat tersebut menjadi ruang refleksi dan sumber ketenangan bagi masyarakat yang kehilangan rumah dan harta benda.
Namun perjuangan tidak berhenti di situ. Lokasi camp yang berada di wilayah perbukitan sempat menyulitkan akses bantuan logistik pada masa awal pengungsian. Distribusi kebutuhan pokok terhambat, bahkan harga sejumlah bahan makanan sempat melonjak akibat keterbatasan pasokan.
Baca Juga: Safari Ramadhan 1447 H Resmi Dibuka, Pemkab Kerinci Perkuat Silaturahmi dan Kepedulian Sosial
Persoalan air bersih juga menjadi tantangan serius. Untuk mengatasinya, warga bersama relawan berinisiatif membangun sistem pipanisasi sederhana agar kebutuhan air dapat terpenuhi secara layak. Upaya swadaya ini menjadi bukti kuat solidaritas dan daya tahan masyarakat setempat.
Meski hidup di bawah tenda dan dalam keterbatasan, semangat kebersamaan menjadi fondasi utama "kampung baru" tersebut. Bagi warga Linge, camp pengungsian bukan sekadar tempat berlindung sementara, melainkan simbol kebangkitan dan tekad untuk kembali menata kehidupan.
Di atas tanah yang pernah dilanda bencana, harapan perlahan tumbuh. Warga Linge menunjukkan bahwa dari longsor dan banjir, semangat untuk bangkit tidak ikut hanyut.