IDENUSANTARA.COM - Riuh tepuk tangan menggema di Gedung Ksirarnawa, namun yang tersisa setelah tirai tertutup bukan sekadar decak kagum. Ada kegelisahan. Ada sindiran yang menohok. Ada pertanyaan yang menggantung tentang masa depan Bali.
Lewat pementasan teater "Jaratkaru", para jurnalis yang tergabung dalam Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya Bali) membuktikan bahwa kritik sosial tak selalu harus disuarakan lewat tajuk rencana, ia bisa hidup, bergerak, dan mengguncang dari atas panggung.
Dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali 2026 di kawasan Taman Budaya Bali, "Jaratkaru" mengolah mitologi klasik menjadi cermin retak realitas kekinian. Kisah tentang utang leluhur dan beban generasi penerus dimaknai ulang sebagai metafora atas kerusakan sosial dan ekologis yang kian nyata: alih fungsi lahan yang tak terkendali, gunungan sampah, kemacetan akut, hingga banjir yang datang seperti tamu tak diundang.
Di atas panggung, empat aktor menarasikan kegelisahan itu dengan perpaduan dialog puitis, gerak teatrikal, dan visual yang simbolik. Namun momen paling menggugah justru hadir dari bangku penonton. Belasan wartawan tiba-tiba berdiri, membacakan potongan berita berbahasa Bali tentang problem sosial-ekologi hari ini. Suara mereka bersahut-sahutan, menciptakan kebisingan informasi, sebuah gambaran betapa publik setiap hari dijejali kabar krisis, tetapi solusi terasa jauh.
Ketua Kawiya Bali, I Putu Suryadi, menegaskan bahwa pementasan ini lahir dari kegelisahan yang nyata.
"Kami setiap hari menulis tentang banjir, sampah, konflik ruang, kemacetan. Tapi lewat teater, kami ingin menyentuh kesadaran dengan cara berbeda. Bukan hanya memberi tahu, tapi menggugah," ujarnya usai pertunjukan.
Menurutnya, "Jaratkaru" adalah simbol generasi hari ini yang memikul utang masa lalu.
"Kalau pembangunan terus melupakan keseimbangan, maka anak cucu kita yang akan membayar. Itu pesan moralnya," tegasnya.
Apresiasi juga datang dari Ni Putu Putri Suastini Koster yang hadir menyaksikan langsung pementasan tersebut.
Ia menilai pendekatan seni seperti ini lebih menyentuh dan reflektif.
"Kritik tidak harus dengan kemarahan. Lewat seni, pesan bisa sampai tanpa melukai, tapi justru lebih dalam maknanya," katanya.
"Jaratkaru" pada akhirnya bukan sekadar pertunjukan teater. Ia menjadi ruang perenungan kolektif tentang arah Bali ke depan. Di tengah gegap gempita pariwisata dan pembangunan, panggung itu seolah bertanya: masihkah kita mendengar suara alam? Masihkah kita peduli pada warisan yang akan kita tinggalkan?
Dan ketika lampu panggung padam, pertanyaan itu justru semakin terang di benak penonton.