IDENUSANTARA.COM - Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah wajah pendidikan, kemampuan seorang guru matematika tak lagi hanya diukur dari kecakapannya menjelaskan rumus atau menyelesaikan persoalan di papan tulis. Guru masa depan dituntut mampu memanfaatkan teknologi, membangun pembelajaran yang kreatif, serta menghadirkan ruang belajar yang mendorong peserta didik berpikir kritis dan inovatif.
Kesadaran itulah yang mendorong Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng memperkuat kompetensi calon guru melalui kolaborasi akademik dengan Program Studi Pendidikan Matematika FKIP IKIP Siliwangi Bandung, perguruan tinggi yang telah mengantongi akreditasi Unggul.
Baca Juga: Bank, Pajak, Media hingga ASN: Jejak Sukses Alumni Prodi Matematika Unika Ruteng
Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam penyelenggaraan Kuliah Praktisi bertajuk "Best Practices Pembelajaran Matematika Inovatif dari Perguruan Tinggi Unggul untuk Mempersiapkan Calon Guru Matematika Profesional di Era Digital" yang berlangsung secara hybrid pada Sabtu (4/7/2026). Bagi kedua institusi, kegiatan ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan bagian dari ikhtiar membangun ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan guru matematika yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Sebanyak 101 peserta mengikuti kegiatan secara daring, di samping mahasiswa dan dosen yang hadir langsung di lokasi. Mereka tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga menyaksikan bagaimana pengalaman dari kampus unggul dapat diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan sekolah saat ini.
Tiga dosen Program Studi Pendidikan Matematika FKIP IKIP Siliwangi Bandung, yakni Dr. Muhammad Ghiyats Ristiana, M.Pd., Dr. Adi Nurjaman, M.Pd., dan Dr. (Cand.) Usman Aripin, S.Pd., M.Pd., bergantian memaparkan pengalaman mereka membangun pendidikan matematika yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Hadir pula Kamelia Novita Lanem, S.Pd., Gr., Guru Berprestasi Tingkat Nasional sekaligus alumni Unika Santu Paulus Ruteng, yang menghadirkan perspektif dari ruang kelas.
Materi yang disampaikan tidak berhenti pada konsep. Para narasumber menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi bagian dari proses belajar yang lebih menarik melalui pemanfaatan GeoGebra, media pembelajaran digital, edugame, hingga berbagai pendekatan pembelajaran berbasis teknologi yang mendorong siswa lebih aktif mengeksplorasi konsep-konsep matematika.
Baca Juga: Tak Lagi Sekadar Mengajar, Calon Guru Matematika di Unika Ruteng Dituntut Kuasai Kompetensi Abad 21
Di sisi lain, peserta juga diajak memahami bagaimana sebuah program studi membangun budaya akademik, mengembangkan kurikulum yang responsif terhadap perubahan, serta menyiapkan lulusan yang tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan tantangan pendidikan abad ke-21.
Bagi Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unika Santu Paulus Ruteng, Dr. Maximus Tamur, M.Pd., kolaborasi seperti ini merupakan investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas lulusan.
Menurut dia, calon guru perlu dipertemukan dengan pengalaman nyata dari akademisi maupun praktisi agar memiliki gambaran yang utuh mengenai dunia pendidikan yang akan mereka hadapi.
"Kuliah Praktisi merupakan jembatan antara teori dan praktik. Melalui kolaborasi dengan IKIP Siliwangi Bandung, kami berharap mahasiswa memperoleh wawasan yang lebih luas, pengalaman yang inspiratif, serta motivasi untuk menjadi pendidik matematika yang profesional, inovatif, dan berdampak bagi masyarakat," ujar Maximus.
Pernyataan tersebut mencerminkan arah baru pendidikan tinggi keguruan yang tidak lagi hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan kompetensi profesional. Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat, perguruan tinggi dituntut mampu menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan realitas dunia pendidikan.
Baca Juga: Asistensi Paskah di Paroki Beokina, Mahasiswa Unika Ruteng Disambut Tradisi “Kepok Tiba”
Pengalaman itu pula yang dibagikan Kamelia Novita Lanem. Sebagai guru yang pernah meraih prestasi di tingkat nasional, ia menceritakan bagaimana inovasi pembelajaran matematika mampu mengubah suasana kelas menjadi lebih aktif dan menyenangkan. Baginya, teknologi hanyalah alat. Faktor yang menentukan tetaplah kreativitas guru dalam merancang pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.