Idenusantara.com-Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero – Sikka, P. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD secara resmi telah dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang kepakaran Filsafat Politik pada Sabtu (18/04/2026). Bertempat di Aula St. Thomas Aquinas Kampus 1 IFTK Ledalero, pengukuhan tersebut dilakukan secara langsung oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, ST., M.Eng.
Dalam orasi ilmiahnya, P. Prof. Dr. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD mengangkat tema “Legitimasi Kekuasaan Epistemologi Demokrasi dan Daya Pertimbangan Politik : Refleksi Filsafat Politik bagi Masa Depan Demokrasi di Indonesia”. P. Prof. Dr. Otto menyoroti bagaimana daya pertimbangan politik masyarakat dapat memfasilitasi diskursus publik yang pada akhirnya memungkinkan terciptanya legitimasi kekuasaan dalam sebuah demokrasi.
Baca Juga: Perpustakaan Bertransformasi: Dari Pusat Referensi ke Ruang Validasi di Era AI
Secara khusus, ia menggolongkan substansi orasinya ke dalam beberapa bagian, yakni pertama, elaborasi tentang konsep legitimasi kekuasaan, dengan merujuk pada pandangan Max Weber. Kedua, ulasan tentang basis epistemologis demokrasi. Ketiga, ulasan tentang konsep politische Urteilskraft. Keempat, gambaran tentang relasi antara ketiga konsep utama. Kelima, catatan penutup dan ucapan terima kasih.
Ia menekankan hubungan antara legitimasi kekuasaan, epistemologi dan pertimbangan politik yang bersifat sirkular, dengan mengikhtisarkan demokrasi sebagai sebuah lingkaran reflektif antara warga yang menilai, ruang publik yang memproduksi dan mereproduksi pengetahuan, dan kekuasaan yang mendapatkan basis legitimasi dari seluruh proses yang telah berjalan tersebut.
Di sisi lain, P. Prof. Dr. Otto memaknai gelar Guru Besarnya sebagai refleksi filosofis yang tidak lahir dari ruang kosong atau hanya dari hasil pergulatan intelektual pribadinya, melainkan juga dari ziarah panjang perjumpaan dengan pelbagai orang dengan beragam latar belakang budaya dan pandangan hidup, yang turut berkontibusi membentuk pemahamannya tentang politik dan demokrasi.
Ia menegaskan bahwa pengalaman belajar di berbagai ruang akademik, termasuk penelitian bersama komunitas-komunitas lokal, kegiatan advokasi untuk masyarakat pinggiran dan dialog yang sering diwarnai perbedaan yang radikal, telah mengajarkannya bahwa kebijaksanaan politik tidak pernah tumbuh dalam kesendirian, melainkan dalam komunikasi dan dialog tanpa henti dengan orang lain.
“Saya menyadari dengan penuh syukur bahwa perjalanan intelektual ini bukan prestasi saya sendiri, melainkan hasil dari sebuah proses pencarian bersama,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia menyebut, perjalanan intelektualnya bukan prestasi pribadi, tetapi hasil dari sebuah proses pencarian bersama. Kepada Serikat Sabda Allah / SVD (Societas Verbi Divini), ia menyampaikan terima kasih, khususnya kepada para konfarter yang telah membentuk horizon spiritual dan etis dari panggilan intelektualnya, termasuk memfasilitasinya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Ditambahkannya, lewat spiritualitas dialog profetis, SVD telah mengajarkan bahwa sikap ilmiah tidak pernah netral, tetapi selalu berpihak kepada mereka yang terpinggirkan.
“SVD telah mengajarkan saya bahwa sikap ilmiah itu tidak pernah netral, tetapi selalu berpihak, yakni berpihak pada korban dan mereka yang terpinggirkan,” kata Otto Gusti.