IDENUSANTARA.COM - Polemik internal yang sempat mencuat di Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK) Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini resmi berakhir damai. Setelah melalui dinamika yang cukup menyita perhatian publik, pihak sekolah bersama yayasan dan tenaga pendidik memilih jalur dialog sebagai solusi utama, dengan mengedepankan pendekatan persuasif dan semangat kekeluargaan.
SMTK Waikabubak yang berada di bawah naungan Yayasan Pelita Pembaharuan Sumba, dipimpin oleh ketuanya Agustinus Rina Lagu, merupakan salah satu lembaga pendidikan swasta yang telah berdiri sejak tahun 2008. Selama perjalanannya, sekolah ini dikenal konsisten dalam membangun pendidikan berbasis nilai spiritualitas, etika, dan kemanusiaan.
Baca Juga: Gubernur NTT Buka Gelaran Takbiran Season III di Bundaran Tirosa Kota Kupang
Dinamika yang terjadi belakangan ini berawal dari perbedaan persepsi terkait kebijakan internal, khususnya yang menyangkut komponen penghasilan guru. Namun, pihak sekolah menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak lebih dari kesalahpahaman yang kemudian berkembang akibat miskomunikasi.
Sebagai bentuk penyelesaian, dilakukan pertemuan langsung antara guru yang bersangkutan, Maria Bela Wawo, dengan Kepala Sekolah SMTK Waikabubak, Diesnilya Belawaja Lagu, yang difasilitasi oleh pihak yayasan. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan damai yang dituangkan dalam berita acara dan surat pernyataan bersama pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Dalam dokumen resmi itu ditegaskan bahwa kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara damai, tanpa adanya tekanan dari pihak mana pun.
“Sehubungan dengan berita yang beredar, kami dari pihak pertama dan pihak kedua telah bertemu dan sepakat untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang telah terjadi secara damai dan kekeluargaan dalam keadaan sehat dan tanpa ada paksaan dari pihak mana pun,” demikian bunyi kesepakatan tersebut.
Baca Juga: Potret Buruk Proyek Dampingan Jaksa di Pedalaman NTT Milik BUMN PT Adhi Karya Sebesar Rp147.1 Miliar
Kepala Sekolah SMTK Waikabubak, Diesnilya Belawaja Lagu, menegaskan bahwa penyelesaian ini menjadi refleksi penting dalam pengelolaan lembaga pendidikan, khususnya dalam menjaga komunikasi yang sehat di lingkungan sekolah.
“Kami percaya bahwa setiap persoalan harus diselesaikan dengan dialog. Apa yang terjadi ini menjadi pembelajaran bagi kami untuk terus memperkuat komunikasi internal, agar setiap kebijakan dapat dipahami secara utuh dan tidak menimbulkan persepsi yang berbeda,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam praktik manajemen sekolah, setiap kebijakan yang diambil selalu melalui mekanisme musyawarah bersama yang melibatkan berbagai unsur di dalam sekolah.
“Kami tidak pernah mengambil keputusan secara sepihak. Semua melalui rapat bersama dengan dewan guru dan yayasan. Namun kami juga menyadari bahwa penyampaian informasi harus lebih maksimal agar tidak terjadi kesalahpahaman,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pendekatan persuasif menjadi pilihan utama karena dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai kemanusiaan.
Artikel Terkait
Berkas Lengkap, Kasus Kecelakaan Maut Kapal Layar Motor Putri Sakinah Segera Dilimpahkan Ke Kejari Manggarai Barat
Pengadaan Tong Sampah di Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan, Seret Nama Camat yang Merupakan Saudara Kandung Bupati
Sejumlah Aktivis Sulsel Datangi KPK Untuk Mempertanyakan Status Hukum H.Mohammad Firdaus Dg Manye
Santosa Kadiman di-LP di Bareskrim Polri, klaim 40 ha fiktif Sejak Awal PPJB Januari 2014
Kisah Pilu Martina, Ibu Rumah Tangga Yang Gigih Menghidupi Keluarga Setelah Suami Terkena Stroke
Waspada Penipuan, Nama Kajati NTT Roch Adi Wibowo Pribadi Dicatut OTK
Tragedi Tenggelamnya Kapal Putri Sakinah di Labuan Bajo Resmi Dilimpahkan ke Kejaksaan
Bangun Desa Berkelanjutan, APUDSI Hadir di Kabupaten Manggarai Timur