Idenusantara.com - Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) kembali mengambil langkah strategis dalam upaya membangun masa depan sepak bola nasional dengan menunjuk mantan bintang Timnas Belanda berdarah Maluku, Simon Tahamata, sebagai Kepala Pemandu Bakat (Head of Scouting) nasional. Penunjukan ini diumumkan secara resmi dan merupakan bagian integral dari rencana jangka panjang PSSI dalam memperkuat sistem regenerasi dan menggarap potensi diaspora Indonesia di luar negeri, khususnya di Eropa.
Baca Juga: Kongres PSSI 2025 Bahas Perubahan Jabatan Ketua Umum, Erick Tohir Akan Diganti
Pengangkatan Simon Tahamata tidak hanya menjadi simbol dari penguatan struktur kepelatihan dan pembinaan usia muda, tetapi juga menjadi penanda keseriusan PSSI dalam membangun sepak bola Indonesia yang berstandar global, menyongsong target ambisius untuk berkompetisi di Piala Dunia 2026 dan seterusnya.
Sinergi dengan Kluivert dan Vanenburg
Dalam menjalankan tugas barunya, Simon akan bekerja bahu-membahu dengan pelatih kepala Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, serta jajaran staf teknis lainnya seperti Gerald Vanenburg dan Nova Arianto. Kolaborasi ini ditujukan untuk membentuk ekosistem pemantauan bakat yang terintegrasi, profesional, dan berkelanjutan.
“Kami sangat antusias menyambut Simon Tahamata dalam keluarga besar PSSI. Pengalaman dan keahliannya dalam pembinaan pemain muda, serta pemahamannya terhadap sepak bola Eropa dan akar budaya Indonesia, akan menjadi kekuatan besar dalam strategi pengembangan kami,” ujar Ketua Umum PSSI Erick Thohir melansir keterangan di website PSSI.
Fokus Diaspora dan Akar Rumput
Dalam perannya sebagai Kepala Pemandu Bakat, Simon Tahamata akan mengawasi proses pencarian talenta dari seluruh penjuru Tanah Air, sekaligus membangun jaringan pemantauan di antara komunitas diaspora Indonesia, khususnya di Belanda – negara tempat ia tumbuh dan meniti karier profesional.
Langkah ini dinilai tepat, mengingat banyak pemain berdarah Indonesia yang tumbuh di Eropa, namun belum terakomodasi secara optimal dalam sistem sepak bola nasional. Dengan figur seperti Simon yang memiliki kredibilitas tinggi di Belanda dan Belgia, diharapkan proses identifikasi serta pendekatan terhadap pemain diaspora akan lebih efektif.
Profil Legenda yang Kembali ke Akar
Simon Melkianus Tahamata lahir di Vught, Belanda, pada 26 Mei 1956, dari keluarga berdarah Maluku. Karier profesionalnya dimulai bersama klub raksasa Ajax Amsterdam, di mana ia mencatat 149 penampilan, mencetak 17 gol dan 33 assist. Ia memenangkan tiga gelar Eredivisie, satu Piala KNVB, dan membawa Ajax ke semifinal Piala Eropa I pada musim 1979–1980.
Setelah sukses bersama Ajax, ia hijrah ke Belgia dan bergabung dengan Standard Liège, tempat ia meraih dua gelar Liga Belgia, satu Piala Belgia, serta mencapai final Piala Winners UEFA. Ia dikenal sebagai pemain sayap dengan teknik tinggi dan kecepatan luar biasa. Tak hanya sukses di lapangan, Simon juga dikenal luas karena sikap fair play-nya, terbukti dari penghargaan Belgian Fair Play Award dan gelar Man of the Season.
Tahamata kemudian melanjutkan karier bersama Feyenoord, Beerschot, dan Germinal Ekeren, hingga pensiun pada 1996. Total lebih dari dua dekade ia habiskan di level tertinggi sepak bola Eropa.
Warisan Pasca Karier dan Komitmen untuk Indonesia
Artikel Terkait
Asprov PSSI NTT Apresiasi Kesiapan Pemkab Ende Sebagai Tuan Rumah Soeratin Cup U-17
PSSI Kaji Usulan Suporter Hadiri Laga Away Liga 1"
Kongres Tahunan PSSI dan Berakhirnya Jabatan Ketum, Erick Tohir: Batasi Jabatan untuk Regenerasi
Agenda Kongres PSSI 2025, Bahas Statuta dan Laporan Keuangan PSSI
Kongres PSSI 2025 Bahas Perubahan Jabatan Ketua Umum, Erick Tohir Akan Diganti