Pengabdian Tulus Di Pelosok: Aipda Lalu Sukiman Jadi Malekat Penolong di Kampung Sunyi Manggarai Timur

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Sabtu, 2 Mei 2026 | 16:49 WIB
Aipda Sukiman saat mendinginkan air panas untuk diminum seorang lansia di Elar-Manggarai Timur (Foto:J.S-Idenusantara.com)
Aipda Sukiman saat mendinginkan air panas untuk diminum seorang lansia di Elar-Manggarai Timur (Foto:J.S-Idenusantara.com)

Atresia Ani. Nama penyakit itu, terdengar asing bagi banyak orang. Tetapi bagi Arnoldus dan Natalia, itu adalah vonis yang mengubah seluruh hidup mereka. Stevano lahir tanpa lubang anus. Kondisi itu, menuntut serangkaian operasi medis kompleks yang biayanya tak sanggup mereka bayangkan, apalagi penuhi.

Setelah upaya keras, pasangan muda ini pernah membawa Stevano ke Kupang. Tapi karena kondisi medis belum memungkinkan - juga karena keterbatasan ekonomi - mereka pulang dalam harapan yang goyah oleh janji pengobatan yang tertunda.

Aipda Sukiman saat mengunjungi kedua lansia di Desa Rana Gapang
Aipda Sukiman saat mengunjungi kedua lansia di Desa Rana Gapang

Datang untuk Mendengar, Hadir untuk Menopang: Keyakinan di Bilik Bambu

Kabar itu sampai ke telinga Aipda Sukiman, seperti desir angin tengah malam. Tanpa menunggu perintah, ia bergerak. Sepeda motornya kembali meraung, mengarungi tanjakan dan turunan yang sama beratnya.

“Saya tidak membawa banyak. Hanya beberapa karung sembako dan sedikit uang dari kantong sendiri,” tutur Sukiman.

“Tapi saya percaya, yang paling mereka butuhkan saat ini, bukan hanya bantuan materi, tapi keyakinan bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.”

Baca Juga: “Gigih: Catatan Pengabdianku” Diluncurkan, Kisah Rendah Hati Sekda Matim Boni Hasudungan Siregar yang Sempat Tolak Dibukukan

Di rumah sederhana, dengan bilik berdinding bambu, Sukiman, disambut senyum letih Arnoldus Golo, ayah Stevano. Pelukan lembut Mama Natalia Suryati Dewi, melingkari tubuh kurus Stevano Yota anaknya, yang tergolek lemah di tikar pandan.

Tangisan Stevano, bukan hanya karena sakit fisiknya, tapi juga karena merasakan reaksi tubuhnya - ia belum bisa hidup normal seperti anak-anak lain.

Setiap hari, mereka menatap Stevano, tak lagi sekadar bertanya; “kapan anak ini sembuh?”, tapi juga “siapa lagi yang akan datang membantu seperti Pak Sukiman?” Sebab di mata mereka, Sukiman bukan hanya anggota Polri. Ia adalah malekat penolong dan pengingat bahwa kemanusiaan tak pernah mengenal jarak.

Harapan di Belakang Motor Tua: Dari Mbawar ke Kaju Wangi

Di jalan-jalan kecil Manggarai Timur, sepeda motor dinas milik Aipda Sukiman, bukan hanya kendaraan tugas. Ia menjadi kendaraan yang menghantar simpati dan empati, penghiburan dan saksi nyata, tentang hati seorang polisi yang begitu lapang membasuh luka bernanah pada tubuh kurus masyarakatnya.

Dari kursi roda rusak untuk Petrus, hingga sembako, demi membangunkan semangat hidup bagi keluarga Stevano Yota. Sukiman, tak hanya hadir menonton. Ia mengakar dalam cerita-cerita kemanusiaan yang kadang terlalu sepi dari perhatian publik.

Di kampung Mbawar, kursi roda rusak itu mungkin akan segera lapuk oleh waktu. Tapi jejak motor yang meninggalkan jalanan berbatu, akan tetap tertanam dalam ingatan Petrus dan keluarganya - bahwa suatu hari, dua orang berseragam datang, tidak untuk menangkap, tidak untuk menghakimi, tapi datang membawa kepedulian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

X