Dua orang berseragam itu adalah Aipda Sukiman bersama seorang Babinsa dari Kodim 1612 Ruteng. Mereka menempuh 150 kilometer untuk Petrus Febrian Tempur, 19 tahun, yang sejak lahir belum pernah menjejakkan kaki di tanah.
Motor tua itu juga ia pacu sejauh 90 kilometer ke Desa Kaju Wangi, di ujung timur Kecamatan Elar. Di sana, Yustina Elina menggenggam harapan rapuh demi Astrin Karmel Fia, 17 tahun, yang sejak lahir tidak memiliki lubang anus.
Sukiman datang tanpa sirene.Duduk di lantai, tanpa alas. “Ia tidak datang sebagai pejabat. Ia datang sebagai pelayanan,” katanya.
“Jangan pernah menyerah. Tuhan bisa mengirim pertolongan dari arah yang tidak kita duga.Saya tidak bisa mengangkat beban ini sendirian. Tapi jika satu orang saja tergerak, satu saja, maka beban ini bisa lebih ringan”, ungkapnya.
Baca Juga: Haru Keluarga Tasya: Rumah Singgah Ruteng Bukti Negara Hadir, Terima Kasih Pak Gubernur NTT
Pengemban Amanat Cinta Kasih: Pelayan, Pendengar, Sahabat
Masyarakat mengenalnya, bukan sebagai "Pak Polisi," tapi sebagai “Bapak”, yang biasa dipanggil kapan saja.Ia menanam benih kebaikan di atas tanah kerasnya Elar, menyiramnya dengan dedikasi dan merawatnya dengan kerendahan hati serta kesabaran.
Di sanalah, Aipda Sukiman, memilih untuk tidak hanya menjadi penegak hukum, tetapi juga memikul beban tanggungjawab kemanusiaan. Pengemban amanat Cinta Kasih, untuk membela nilai kehidupan.
Piagam Penghargaan Dari Polri
Dalam upacara sederhana, namun penuh makna. Bertempat di halaman Polres Manggarai Timur, Jumat, 9 Juni 2023, Kapolres Matim AKBP I Ketut Widiarta, S.H., S.I.K., http://M.Si menegaskan:
“Penghargaan itu, bukan karena pencapaian administrasi atau hasil lomba, tapi karena pengabdian yang melebihi panggilan tugas. Ia benar-benar hadir di tengah masyarakat sebagai pelayan, pendengar dan sahabat. Itulah roh dari Polri Presisi.”
Dan, Itulah Makna Polisi Humanis yang Sejati
Ketika dedikasi menjadi budaya, ketika pelayanan menjadi napas, dan ketika kemanusiaan menjadi nilai utama, maka polisi tidak lagi hanya penjaga, tapi juga penyembuh luka sosial.
Dan di tengah perbukitan sunyi, di rumah-rumah bambu yang rapuh, warga Manggarai Timur tahu pasti, satu hal: jika ada tangisan di balik bukit, jika ada luka yang tak tampak bernama Atresia Ani, jika ada jalan terjal dan fasilitas terbatas — maka ketulusan bisa menemukan jalannya sendiri.
Jalan itu bernama Aipda Lalu Sukiman. Malekat penolong. Api kecil di kampung sunyi.Di pelosok negeri.Masih banyak kisah kisah humanis Aipda Sukiman yang belum sempat tertulis. Kiranya akan tumbuh Polisi Sukiman Sukiman yang lainnya di pelosok negeri ini.