Idenusantara.com-Rumah itu berdiri rapuh di antara ilalang dan tanah kering Kampung Lando, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar. Luasnya hanya 6x7 meter. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah keropos. Atapnya dari seng tua yang karatan, beberapa bagian sudah bolong dan nyaris roboh. Di dalam rumah itulah Anastasia Lija, seorang perempuan renta berusia 73 tahun, berjuang melawan sakit dan kemiskinan hanya seorang diri.
Di sanalah ia tinggal bersama anak-anaknya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat dan perlindungan, malah kerap menjadi sumber kekhawatiran. Saat hujan turun, air masuk dari atap dan merembes lewat celah-celah dinding yang telah dimakan usia dan rayap. Tidak ada plafon. Tidak ada lantai keramik. Yang ada hanyalah tanah sebagai pijakan, dan tikar lusuh sebagai tempat tidur.
“Kalau hujan, air masuk dari atas dan dari samping. Bambu dinding rumah sudah banyak yang keropos. Kadang malam-malam kami harus pindah-pindah supaya tidak basah,” kata Anastasia, lirih.
Tidak Layak Huni, Tapi Tetap Jadi Tempat Berlindung
Kondisi rumah Mama Anastasia jauh dari kata layak huni. Tiupan angin malam membuat tubuh menggigil karena tidak ada sekat yang benar-benar menutup rapat. Rayap dan debu adalah penghuni tetap yang tak pernah diusir. Meski demikian, rumah itu adalah satu-satunya tempat berteduh yang ia miliki hasil dari kerja kerasnya bertahun-tahun di kebun ladang.
Dapur berada di pojok belakang, hanya terdiri dari tungku batu yang disusun seadanya. Tidak ada gas, tidak ada listrik, bahkan air bersih pun harus diambil dari sumur tetangga atau mata air yang jaraknya cukup jauh.
"Saya sudah tua, hanya dibantu anak-anak tapi harus tetap masak, cuci, bersih-bersih, karena anak-anak masih butuh makan. Tapi kalau hujan lebat, semua banjir. Mau masak pun susah,” tambahnya.
Baca Juga: Jaga Integritas Kepolisian, Propam Polres Mabar Rutin Cek Senpi
Rumah Tua, Harapan yang Masih Menyala
Rumah Mama Anastasia bukan sekadar bangunan reyot. Ia adalah simbol dari ketahanan, kesabaran, dan cinta ibu yang tak tergantikan. Di tengah sakit gondok yang telah dideritanya selama 35 tahun, rumah itulah yang selalu menjadi tempat ia pulang, meski tak memberi kenyamanan.