Ruteng, Idenusantara.com — Polemik perbatasan antara Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Ngada di Flores, Nusa Tenggara Timur, telah mencapai titik kritis.
Polemik ini memicu gesekan dan berpotensi menimbulkan aksi kekerasan antar sesama warga di wilayah perbatasan.
Situasi tersebut juga mendorong kecaman dan kritik tegas sejumlah elemen, salah satunya dari organisasi kepemudaan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manggarai.
Dalam pernyataan sikapnya, GMNI Manggarai menyebut konflik ini sebagai tragedi kemanusiaan dan mendesak pemerintah daerah agar segera mengambil tindakan konkret.
Ketua GMNI Cabang Manggarai, Meldyani Yolfa Jaya, tidak ragu melontarkan kritik pedas.
Yolfa sapaan Meldyani menyebut konflik yang berujung pada kekerasan ini tidak hanya bertentangan dengan nilai-nilai nasionalisme, tetapi juga mencoreng komitmen terhadap hak asasi manusia.
"Darah rakyat Flores terlalu berharga untuk ditumpahkan hanya karena persoalan perbatasan," tegas Yolfa melalui rilis yang diterima media ini pada Senin (25/8/2025).
Yolfa menambahkan, akar permasalahan ini bukanlah sekadar sengketa wilayah, melainkan cerminan nyata dari kelalaian negara dalam menjamin keadilan dan keamanan bagi rakyatnya.
Karena itu, ia menuntut negara melalui pemerintah daerah agar segera mengambil sikap untuk menyelesaikan konflik.
Analisis GMNI: Kritik Terhadap Pemerintah dan Dampak Sosial
GMNI Manggarai memaparkan analisis mendalam yang menyoroti berbagai aspek konflik.
Dari sudut pandang politik, mereka melihat konflik ini sebagai bukti bahwa pemerintah daerah—khususnya di Kabupaten Manggarai Timur—belum bertindak secara progresif dan strategis untuk meredam tensi yang kian meningkat.
GMNI juga menggarisbawahi pentingnya ideologi Marhaenisme yang menolak segala bentuk kekerasan, menekankan bahwa penderitaan rakyat kecil, yang selama ini menjadi korban ketidakjelasan status perbatasan, tidak boleh diabaikan.
Secara sosial, GMNI memprediksi dampak jangka panjang dari konflik ini, yaitu rusaknya tatanan sosial, terpecahnya solidaritas kekerabatan, dan timbulnya trauma kolektif di tengah masyarakat.