daerah

Mahasiswa Sosiologi UMK Dalami Psikologi Pendidikan di SLBN Kota Radja Kupang

Rabu, 21 Mei 2025 | 18:27 WIB
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah Kupang mengembangkan pemahaman pada pokok teori psikologi pendidikan dengan melakukan observasi langsung di SLBN Kota Radja Kupang (Foto: H. P)

 

 

Idenusantara.com-Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Muhamadiyah Kupang mengembangkan pemahaman pada pokok teori psikologi pendidikan dengan melakukan observasi langsung di SLBN Kota Radja Kupang.

Observasi ini bertujuan untuk memahami psikologi peserta didik berkebutuhan khusus, yang pada dasarnya membutuhkan perhatian yang objektif dan signifikan terhadap perkembangan psikologi, karakter, sikap, tingkat pengetahuan siswa, serta strategi pembelajaran dari pendidik terhadap siswa.

Baca Juga: Viral Dimedsos Chat Dengan Seorang Wanita, Kadis DLH Manggarai Timur Katakan Begini

Penerapan pendidikan yang diterapkan pada sekolah berkebutuhan khusus berbeda dengan sekolah reguler umumnya. SLBN Kota Radja Kupang, pada umumnya, menerapkan metode belajar yang berfokus pada karakteristik dan pengetahuan, serta membangun minat dan keterampilan peserta didik yang bertujuan untuk mendorong peserta didik menghasilkan inovasi yang kreatif dan berprestasi.

SLB Negeri Kota Radja Kupang menampung semua jenis ketunaan (tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autis) dari jenjang SD sampai SMA dalam satu atap, yang tentunya sangat membutuhkan guru atau pendidik yang khusus pada bidangnya demi meningkatkan kualitas peserta didik, serta agar mampu berkompetisi dengan siswa reguler umumnya.

Baca Juga: Respon Cepat PUPR Manggarai Timur Perbaiki AMB di Desa Lengko Namut, Warga: Terima Kasih Pak Rikard Persly

Ibu Ratna, selaku kesiswaan, mengungkapkan ada beberapa jenis siswa berkebutuhan khusus, dan setiap jenis siswa memiliki daya serap serta tingkat pengetahuan yang berbeda-beda tergantung pada jenis ketunaannya.

"Siswa memiliki berbagai jenis kebutuhan khusus seperti tunanetra, tunagrahita, tunadaksa, autis, dan tunarungu, yang memiliki tingkat pemahaman terhadap instruksi lisan bervariasi tergantung pada jenis ketunaan. Ada yang biasa saja, ada juga yang mudah marah, dan ada yang cepat emosi tergantung pada jenisnya. Beberapa siswa memiliki respon yang berbeda terhadap pembelajaran, ada yang cepat dan ada yang lambat," ungkapnya dalam wawancara.

Baca Juga: Dugaan Korupsi, Kejati NTT Tetapkan Komisaris Utama PT Naradha sebagai Tersangka, Kerugian Negara Rp 4 Miliar Lebih

Ia juga mengungkapkan tantangan dan hambatan sebagai guru atau pendidik dalam perkembangan siswa di kelas maupun di luar kelas, serta perlunya kesinambungan bimbingan antara guru dengan orang tua.

"Tantangan dan hambatan dalam perkembangan siswa menuntut kita untuk dapat menyesuaikan dengan kondisi peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas, termasuk perlunya kesinambungan bimbingan dari guru dan orang tua," ungkapnya menambahkan.

Baca Juga: Gubernur Melki Komitmen Optimalkan Sumber Daya Alam Non Tambang di NTT

Ibu Efi, selaku Guru Bahasa Indonesia di kelas VII C (tunagrahita), mengungkapkan kondisi yang dialami siswa dan pentingnya memberikan pemahaman berulang-ulang agar siswa dapat paham dengan pelajaran yang diberikan.

Halaman:

Tags

Terkini