Idenusantara.com - Kunjungan reses anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Yohanes Rumat, di SMAN 5 Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur pada Rabu (16/7/2025), menjadi panggung terbuka bagi berbagai suara yang selama ini terabaikan.
Dari ruang kelas sederhana di kaki gunung Poco Ranaka, Yohanes mendengar langsung jeritan para guru honorer, keresahan siswa, dan kegelisahan kepala sekolah yang selama ini bergulat dengan keterbatasan.
Dalam pertemuan tersebut, Yohanes Rumat menegaskan bahwa reformasi pendidikan NTT adalah keniscayaan, bukan pilihan.
“Kita tidak bisa lagi menutup mata. Carut-marut pendidikan, mulai dari sarana prasarana hingga ketidakjelasan status guru, sudah sampai pada titik kritis. Dan ini bukan hanya soal pendidikan, ini soal keadilan sosial,” ujarnya.
Baca Juga: Parkir Liar Jadi Target Operasi Patuh Turangga Polres Mabar di Labuan Bajo
Guru dan Siswa Bicara, DPRD Menyimak
Di forum dialog, guru Bahasa Inggris SMAN 5 Poco Ranaka, Rini Besa, menyampaikan uneg-uneg yang mewakili banyak guru di NTT, khususnya yang masih berstatus honorer kategori R3 dan R4. Meski sudah mengabdi bertahun-tahun, memiliki sertifikat pendidik, dan mengikuti seleksi PPPK, banyak dari mereka tetap tidak memperoleh formasi.
“Kenapa guru Bahasa Inggris selalu seperti anak tiri? Kami ikut tes, nilainya tinggi, punya sertifikat. Tapi kuota formasi kami selalu kecil dibandingkan mata pelajaran lain. Bahkan provinsi lain sudah mulai proses, kami di NTT masih diam,” keluh Rini, disambut anggukan dari rekan-rekannya.
Menanggapi keluhan tersebut, Yohanes Rumat menyebut bahwa ketidakadilan dalam distribusi formasi dan lambannya tindak lanjut oleh Pemprov NTT adalah bentuk pengabaian terhadap pengabdian para guru.
“Kalau sudah mengabdi lebih dari 10 tahun, punya kompetensi, ikut tes, tapi tetap tidak diangkat, itu bukan sekadar masalah administratif. Itu bentuk kekejaman struktural,” tegasnya.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Pengadaan Masker COVID-19 di NTB Tahun 2020, Wirajaya Resmi Ditahan
Sekolah Kekurangan WC, Laboratorium, dan UKS
Sementara itu, Kepala SMAN 5 Poco Ranaka, Darius Ngkahar, menyampaikan bahwa sejak berdiri, sekolahnya belum pernah mendapat bantuan besar dari pemerintah provinsi maupun pusat.
“Kami hanya punya dua toilet untuk 300-an siswa, laboratorium belum ada, UKS pun belum kami miliki. Pagar sekolah baru setengah jadi. Kami terus berjuang dengan segala keterbatasan,” ungkap Darius.