IDENUSANTARA.COM - Kabar menggembirakan datang bagi masyarakat Kabupaten Ngada dan Kabupaten Manggarai. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI kembali mengalokasikan anggaran sebesar Rp17,8 miliar untuk meningkatkan kualitas ruas Jalan Nasional Simpang Bajawa-Malanuza-Gako hingga batas Kabupaten Manggarai.
Pekerjaan tersebut merupakan bagian dari paket Preservasi Jalan Nasional KM 210 Simpang Bajawa-Kota Bajawa-Malanuza-Gako Tahun Anggaran 2026 yang dilaksanakan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Nusa Tenggara Timur melalui Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah III Provinsi NTT
Baca Juga: Gema Tihar Pecah di Fulan Fehan: 3.000 Penari Likurai Satukan Indonesia, Timor Leste, dan Australia
Keberadaan ruas jalan nasional ini memiliki peran vital sebagai jalur penghubung antara Kabupaten Ngada dan Kabupaten Manggarai. Selain menjadi akses utama mobilitas masyarakat, jalan tersebut juga menjadi urat nadi distribusi hasil pertanian, perdagangan, hingga mendukung sektor pariwisata di Pulau Flores. Karena itu, upaya preservasi dan peningkatan kualitas jalan dinilai sangat penting agar aktivitas masyarakat berlangsung lebih aman, nyaman, dan efisien.
Penjabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.4 Jalan Nasional Ngada-Manggarai Timur, Franky Simamorang, mengatakan anggaran proyek tersebut sepenuhnya bersumber dari Kementerian PUPR RI.
"Nilai kontraknya Rp17,8 miliar untuk meningkatkan kemantapan jalan di ruas Jalan Nasional Gako-Malanuza-Simpang Bajawa hingga batas dengan Kabupaten Manggarai," kata Franky kepada awak media, Senin (29/6/2026).
Franky menjelaskan, proyek ini bukan hanya berupa perbaikan badan jalan semata. Paket pekerjaan telah dirancang secara komprehensif untuk menjaga kondisi ruas jalan nasional tetap mantap sehingga mampu memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat dan pengguna jalan.
Adapun pekerjaan yang akan dilaksanakan meliputi pemeliharaan rutin kondisi jalan sepanjang sekitar 102 kilometer, pekerjaan penunjang (holding), rehabilitasi minor jalan, hingga penanganan titik-titik longsoran yang selama ini menjadi salah satu penyebab terganggunya kelancaran lalu lintas, terutama saat musim hujan.
Menurutnya, penanganan longsor menjadi salah satu fokus utama karena beberapa titik di sepanjang ruas tersebut memiliki kontur perbukitan yang rawan mengalami pergerakan tanah ketika curah hujan meningkat.
Franky mengungkapkan bahwa kontrak pekerjaan telah ditandatangani sejak 26 Januari 2026 dengan masa pelaksanaan selama 341 hari kalender. Pelaksanaan proyek dipercayakan kepada PT Wijaya Graha Prima sebagai penyedia jasa konstruksi.
"Masa pelaksanaan pekerjaan ini berakhir pada tanggal 31 Desember 2026," jelasnya.
Dengan masa pengerjaan hampir satu tahun, pemerintah berharap seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target sehingga kondisi jalan nasional tetap terjaga dan mampu meningkatkan keselamatan serta kenyamanan pengguna jalan.
Selain meningkatkan kualitas infrastruktur, proyek preservasi ini juga diharapkan mampu memperlancar arus logistik, menekan biaya transportasi, serta memperkuat konektivitas antarwilayah di Flores. Infrastruktur jalan yang baik diyakini menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, mempercepat distribusi barang dan jasa, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan, kesehatan, dan sektor produktif lainnya.