Idenusantara.com-Komitmen inklusivitas kembali dibuktikan Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (DISKOP-UKM-PP) Kabupaten Manggarai Timur. Dalam Pelatihan Pembuatan Pangan Lokal 10-12 Juni 2026 di Hotel Gloria, Borong, satu kursi khusus disediakan untuk Anastasia Susanti Bupu, penyandang tuna wicara asal Woko Pau, Desa Bamo, Kota Komba.
Kehadiran Santi di tengah 24 peserta lainnya menjadi pesan kuat: belajar dan berkarya adalah hak semua orang. Tanpa kecuali.
Baca Juga: Tolong Selamatkan Stefania, Bayi Malang di Manggarai Timur Yang Berjuang Lawan Hidrosefalus
Pelatihan yang dibuka Sekretaris DISKOP-UKM-PP Matim, Adrianus Arshi Ompor, ini membekali 25 peserta se-Kabupaten Matim tentang pengolahan dan pengembangan pangan lokal. Tujuannya satu: menaikkan nilai jual produk daerah sekaligus membuka jalan usaha baru bagi masyarakat.
"Setiap warga negara punya hak sama untuk akses pelatihan dan berkembang. Kami sengaja libatkan Santi sebagai bentuk hormat pada nilai kemanusiaan dan kesetaraan," tegas Adrianus mewakili Kepala Dinas.
Baca Juga: Kejati NTT Didesak Periksa Oswaldus Ngani Dalam Dugaan Korupsi MBG Modus Yayasan Titipan
Ia menambahkan, pembangunan daerah tak boleh meninggalkan siapa pun. Keterbatasan fisik, katanya, bukan tembok penghalang.
"Justru semangat Santi jadi inspirasi peserta lain. Perindagkop Matim berkomitmen buka ruang lebih luas bagi kelompok rentan agar mandiri secara ekonomi dan punya masa depan lebih baik," lanjutnya.
Momen haru terjadi saat Santi menyampaikan rasa syukurnya. Lewat bahasa tubuh dan ekspresi, ia berterima kasih karena diberi kesempatan belajar setara dengan peserta lain. Apresiasi spontan pun mengalir dari peserta dan panitia.
Baca Juga: Yayasan Titipan Jadi Modus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional
Pelatihan 3 hari ini digawangi 2 instruktur dari PT Juang Mandiri Sejahtera Malang, Jawa Timur. DISKOP-UKM-PP Matim berharap, selain keterampilan baru, kegiatan ini menumbuhkan kesadaran: menghargai keberagaman, memperkuat solidaritas, dan membangun Matim yang lebih inklusif.
Karena pembangunan sejati adalah ketika tak ada satu pun warga yang tertinggal.