Idenusantara.com - Suara tabuhan mbata terdengar menyambut matahari pagi yang perlahan muncul dari balik perbukitan Lembor. Anak-anak berpakaian adat menari penuh semangat di tengah halaman Paroki Santa Familia Wae Nakeng, Lembor, Manggarai Barat, NTT.
Tak jauh dari panggung, ibu-ibu membuka lapak kecil yang menyajikan aneka makanan tradisional, olahan kue, camilan, dan jamu dr produk umkm di lembor. Hari itu, gereja bukan hanya tempat berdoa. Ia menjadi ruang hidup yang mempersatukan, merayakan, dan menghidupkan.
Baca Juga: Polisi Kejar Ketua Panitia Lentera Festival 2024 Dian Permana, Dugaan Penggelapan Rp800 Juta
Itulah yang terjadi selama tiga hari, 29 hingga 31 Mei 2025. Festival Budaya dan Religi Santa Familia Wae Nakeng kembali hadir, untuk keempat kalinya. Namun tahun ini, festival tersebut terasa berbeda. Lebih hangat, lebih inklusif, dan lebih menggugah hati.
Merayakan Iman dalam Warna Budaya
Tema festival tahun ini “Merajut Persaudaraan dalam Semangat Sinodalitas”, bukan sekadar kalimat yang ditempel di baliho. Ia hidup dalam gerak. Dalam langkah-langkah kecil anak-anak yang menari. Dalam tawa para penjual UMKM yang saling berbagi tempat. Bahkan dalam doa bersama yang dihadiri lintas agama.
“Sinodalitas itu berjalan bersama. Bukan hanya umat Katolik, tapi semua yang mau berbagi ruang dan rasa,” kata Romo Leonardus Liberto Mere, Pastor Vikaris Paroki, yang menjadi salah satu motor penggerak festival.
Bagi Romo Leonardus, festival ini adalah perwujudan nyata dari Tahun Pastoral Tata Kelola Partisipatif Keuskupan Labuan Bajo.
Bukan tanpa alasan. Selama tiga hari, gereja yang biasanya sunyi berubah menjadi tempat semua orang merasa diterima. Ada perarakan patung Bunda Maria yang disambut tak hanya oleh umat Katolik, tetapi juga oleh tetangga-tetangga dari GMIT dan komunitas Muslim yang ikut bergabung dalam stan UMKM.
UMKM, Dialog, dan Perjumpaan
Di antara aroma kopi panas dan pangan lokal, Sony Juru, Ketua Seksi UMKM, terlihat sibuk memeriksa setiap tenda.
“Tahun ini UMKM bertambah. Total ada 19, termasuk dari GMIT dan Muslim,” katanya sambil tersenyum.
“Kita potong 10 persen dari hasil penjualan, tapi bukan untuk untung. Itu untuk logistik. Selebihnya, festival ini untuk mendukung pengembangan ekonomi umat," katanya lagi.
Artikel Terkait
Gubernur NTB Berkomitmen Terus Mendukung Gelaran Lombok International Modest Fashion Festival
Transpuan Kota Kupang Ramaikan Lomba Fashion Show Kredit Plus Festival 2023
Pemkot Kupang Apresiasi Exotic Tenun Festival
Pecinta Event Wajib Tahu! Festival Pesona Wisata di Manggarai Timur akan Kembali Digelar di Pantai Ligota Beach