Dari Wae Nakeng, Sebuah Festival Menjahit Persaudaraan Lewat Iman dan Budaya

photo author
Gordianus Jamat, Ide Nusantara
- Sabtu, 31 Mei 2025 | 23:53 WIB
Tampak masyarakat sedang menyaksikan dua orang pelajar yang sedang memerankan drama dalam memeriahkan festival religi dan budaya di halaman Paroki Santa Familia Wae Nakeng, Lembor, Manggarai Barat, NTT.
Tampak masyarakat sedang menyaksikan dua orang pelajar yang sedang memerankan drama dalam memeriahkan festival religi dan budaya di halaman Paroki Santa Familia Wae Nakeng, Lembor, Manggarai Barat, NTT.

Idenusantara.com - Suara tabuhan mbata terdengar menyambut matahari pagi yang perlahan muncul dari balik perbukitan Lembor. Anak-anak berpakaian adat menari penuh semangat di tengah halaman Paroki Santa Familia Wae Nakeng, Lembor, Manggarai Barat, NTT.

Tak jauh dari panggung, ibu-ibu membuka lapak kecil yang menyajikan aneka makanan tradisional, olahan kue, camilan, dan jamu dr produk umkm di lembor. Hari itu, gereja bukan hanya tempat berdoa. Ia menjadi ruang hidup yang mempersatukan, merayakan, dan menghidupkan.

Baca Juga: Polisi Kejar Ketua Panitia Lentera Festival 2024 Dian Permana, Dugaan Penggelapan Rp800 Juta

Itulah yang terjadi selama tiga hari, 29 hingga 31 Mei 2025. Festival Budaya dan Religi Santa Familia Wae Nakeng kembali hadir, untuk keempat kalinya. Namun tahun ini, festival tersebut terasa berbeda. Lebih hangat, lebih inklusif, dan lebih menggugah hati.

Merayakan Iman dalam Warna Budaya

Tema festival tahun ini “Merajut Persaudaraan dalam Semangat Sinodalitas”, bukan sekadar kalimat yang ditempel di baliho. Ia hidup dalam gerak. Dalam langkah-langkah kecil anak-anak yang menari. Dalam tawa para penjual UMKM yang saling berbagi tempat. Bahkan dalam doa bersama yang dihadiri lintas agama.

“Sinodalitas itu berjalan bersama. Bukan hanya umat Katolik, tapi semua yang mau berbagi ruang dan rasa,” kata Romo Leonardus Liberto Mere, Pastor Vikaris Paroki, yang menjadi salah satu motor penggerak festival.

Bagi Romo Leonardus, festival ini adalah perwujudan nyata dari Tahun Pastoral Tata Kelola Partisipatif Keuskupan Labuan Bajo.

Bukan tanpa alasan. Selama tiga hari, gereja yang biasanya sunyi berubah menjadi tempat semua orang merasa diterima. Ada perarakan patung Bunda Maria yang disambut tak hanya oleh umat Katolik, tetapi juga oleh tetangga-tetangga dari GMIT dan komunitas Muslim yang ikut bergabung dalam stan UMKM.

UMKM, Dialog, dan Perjumpaan

Di antara aroma kopi panas dan pangan lokal, Sony Juru, Ketua Seksi UMKM, terlihat sibuk memeriksa setiap tenda.

“Tahun ini UMKM bertambah. Total ada 19, termasuk dari GMIT dan Muslim,” katanya sambil tersenyum.

“Kita potong 10 persen dari hasil penjualan, tapi bukan untuk untung. Itu untuk logistik. Selebihnya, festival ini untuk mendukung pengembangan ekonomi umat," katanya lagi.

Ricard Jundu bersama rekannya menjadi pelaku UMKM untuk terlibat dalam kegiatan festival budaya dan religi.
Ricard Jundu bersama rekannya menjadi pelaku UMKM untuk terlibat dalam kegiatan festival budaya dan religi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Gordianus Jamat

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pongkor! Sepenggal Sejarah yang Terlupakan

Rabu, 22 Januari 2025 | 07:47 WIB

Tradisi Berburu Ikan Paus Suku Tufaona di NTT

Selasa, 21 Januari 2025 | 07:05 WIB

Legenda Putri Mandalika Dari Lombok

Selasa, 21 Januari 2025 | 06:24 WIB
X